Content View Hits : 144549

 

 

 

 

 

 

We have guests online

Pengalaman Tentang Berbagai Dunia Edukasi

09NOVEMBER_SHORT2011
User Rating: / 0
PoorBest 

Dari Edukasi Berbasis Buruh Ke Edukasi Berbasis Budaya

Kemudian Edukasi Berbasis Teknologi

Oleh : Yohan Kusmintoro

( IT Direktorat Theresiana Yayasan Bernardus )

Sebuah pengalaman luar biasa selama saya terlibat dalam edukasi berbasis alam dan budaya di lereng Merapi bersama Romo Vincentius Kirjito dan Romo Singgih Guritno ( ketika masih bertugas di Paroki Sumber Lereng Merapi ). Gerak riak hidup ini benar benar mengubah pandangan saya terhadap perkembangan dinamika dunia teknologi yang telah saya tekuni semenjak tahun 2002, tahun 2002 merupakan tahun awal saya mengenal komputer, namun baru tahun 2005 saya baru terlibat aktif dalam perkembangan teknologi secara intens. Pada masa awal saya mengenal komputer itu, hampir sepuluh tahun yang lalu, saya masih terkungkung dalam dunia edukasi berbasis buruh, jalan hidup manusia tidak terpetakan, masih perawan dan belum terjamah. Saya mencoba bercerita agar tulisan tulisan saya bisa menggugah, hidup adalah perubahan, saya banyak belajar dari pengalaman.

Edukasi Berbasis Buruh ( Kilas Balik Menjadi Seorang Buruh )

Saya terbiasa terlibat dalam urusan perburuhan, bertahun tahun saya menghabiskan waktu saya di depan mesin, di depan mesin produksi yang membuat midsole phylon / outsole rubber sepatu. Saya bekerja mulai jam 07.00, pulang juga jam 19.00 malam. Bayangkan pekerjaan di depan mesin, sejak jam 07.00 sampai jam 12.00, istirahat sejam dengan makan kemudian tidur, di sambung lagi tanpa henti mulai jam 13.00 sampai jam 18.00 disertai dengan bisingnya suara mesin, itu kalo saya mencapai target boleh selesai, kalau tidak ya harus menghabiskan waktu jam kerja. Minggu depannya saya harus masuk shift malam dari jam 19.00 sampai jam 07.00 .. bayangkan sendiri, semalaman saya bekerja begadang seminggu penuh bertahun tahun. Saya tanpa henti memproduksi midsole phylon, di depan mesin yang suhunya sekitar hampir 80 derajat. Saya merasakan beratnya menjadi seorang buruh, namun saya tetap menekuni pekerjaan saya. Saya mencoba tekun, saya mengerjakan tugas saya memproduksi midsole sepatu tanpa mengeluh, saban hari saya harus memutar mould atau pencetak midsole sepatu sebanyak 8 unit uang masing masing beratnya hampir 60 Kg sampai 150 Kg, secara manual, tidak otomatis seperti mesin jaman sekarang. Bahkan saya pernah beberapa kali jari jari saya retak kejepit mesin mould sampai “rampal”.


Pengalaman menjadi pekerja kasar itulah yang sering membuat saya tidak sesuai dengan ritme pekerjaan kantor, saya jadi lebih suka mengerjakan pekerjaan yang berat berat dibanding menjadi tukang perintah belaka. Saya membuat konsep pendidikan berbasis teknologi dari konsep itu saya melaksanakan sendiri dan hasilnya yang menikmati orang lain, terutama para guru Theresiana. Membangun infrastruktur merupakan sebuah pekerjaan yang penuh tantangan.

Nasib baik memihak saya, setelah dipungut menjadi pengurus serikat pekerja, saya lebih banyak berkecipung dalam pemberdayaan pekerja, berkecipung di serikat pekerja menjadi warna yang menyenangkan, saya membantu bidang bidang seperti kesejahteraan karyawan, pengupahan, pembelaan Hubungan Industrial Pancasila, dan tentu saja saya juga tetap bekerja seperti biasa di bidang persepatuan, hanya saja tidak memegang mesin produksi lagi namun menjadi seorang checker atau QC Quality Control midsole phylon, sehari saya harus merampungkan memeriksa jumlah out sole ribuan pasang, namun menjadi bagian dari serikat pekerja itu banyak mengubah sudut pandang saya. Saya belajar bagaiamana memanage waktu antara bekerja dan mengurus serikat pekerja. Banyak perubahan perubahan yang dilakukan oleh serikat pekerja di mana saya bernaung.

Namun malang tidak dapat ditolak, untung tidak dapat di raih, setelah berjuang ke Nike Inc yang berkantor gedung BEJ Jakarta kawasan Semanggi dengan demo besar besaran yang membuat macet seluruh Jakarta pada bulan Juli tahun 2007, hampir 15.000 buruh dikerahkan menggerudug kawasan Semanggi, di mana kedua perusahaan yang satu group diterminasi dari Nike Inc, kedua perusahaan itu akhirnya mendapatkan perpanjangan order masing masing setahun dua tahun, dua tahun itulah merupakan neraka bagi saya. Satu persatu pengurus serikat pekerja disingkirkan, terlebih yang menyingkirkan adalah teman sendiri yang pernah dididik menjadi pengurus serikat pekerja periode sebelumnya, yang membelot membela manajemen untuk melakukan pengurangan karyawan dengan cara yang tidak mengindahkan undang undang.

Akhir tahun 2008 itulah, akhir tahun yang sangat tidak mengenakan bagi kami para pengurus serikat pekerja, berbagai intimidasi, teror, saya serba di awasi oleh polisi, intel, satpam dan lain lain. Satu persatu kami dicerai berai, kami kalah karena uang dan kekuasaan, namun kami yakin, masih ada harapan kehidupan yang lebih baik, saya selalu berprinsip : kerja tidak hanya di satu tempat. Namun tidak semua orang punya prinsip seperti itu, banyak buruh yang nasibnya tidak seberuntung saya. Dan sampai hari ini pun “The Killing Field” masih berlanjut di bekas perusahaan saya. Masih banyak teman teman saya di sana yang mengalami nasib seperti saya, diberhentikan dengan tidak hormat karena tidak mau mengundurkan diri dari pekerjaan. Padahal saya sudah mendedikasikan waktu saya hampir 15 jam untuk perusahaan, bahkan produksi sepatu sampai meningkat menjadi 1 juta pasang per bulan, yang rata rata per bulannya cuma 600.000 pasang.

Saya toh akhirnya harus kalah, akhir Januari 2009, adalah waktu yang tak pernah saya lupakan, saya terakhir dari serikat pekerja yang harus dikeluarkan, saya menyusul teman teman saya yang sudah diskorsing tanpa batas waktu yang akhirnya juga dipecat dengan tidak hormat, alasan saya dikeluarkan cuma sepele, saya tidak mau dijadikan pengurus serikat pekerja buatan manajemen yang ujung ujungnya mengadu domba teman teman saya agar bisa cepat cepat keluar dari pekerjaan demi alasan efisiensi, saya sudah diplot mau dijadikan pengkhianat, saya disodori draft dengan gaji yang besar. Namun saya menolak, saya bekerja tidak mendasarkan pada uang, saya bekerja sebagai seni, sebagai wujud perhatian pada sesama. Saya ingin menjadi orang yang peduli, ketika teman sakit mondok di rumah sakit, saya mengajak teman teman saya mengumpulkan dana, dana terkumpul itu untuk membayar biaya rumah sakit, kebanyakan uang sumbangan itu malah sisa, biaya mondok 5 juta sumbangan 8 juta.

Lepas saya dikeluarkan dari perusahaan itu, saya bekerja apapun saya banting stir menjadi tukang service komputer, karena saya mempunyai bekal ilmu komputer, saya menekuni pekerjaan itu, beberapa kali saya bekerja menjadi tenaga tidak tetap di bidang teknologi seperti video editing, programing database dan lain lain, pernah juga menjadi orang kantoran di bidang infrastruktur IT namun tidak bertahan lama karena gaya kerja saya yang kesannya tidak mau duduk di kursi terus membuat banyak teman teman menjadi tidak suka. Saya gampang mendapat perhatian dari pimpinan, dan saya pun juga disingkirkan karena terlalu cepat menyalip jabatan pekerja lama. Sebelum disingkirkan itu, saya sempat mencecap menjadi seorang yang gajinya melebihi orang lama. Rupanya saya memang tidak hoki menjadi pegawai kantoran walau bapak saya pekerja kantoran tata usaha SMA Negeri 1 Magelang.

Edukasi Berbasis Alam Dan Budaya ( Menjadi Wong Deso Dalam Lingkup Spiritualitas )

Malang melintang di dunia internet sejak tahun 2007 itulah banyak mengubah sudut pandang saya, akhirnya toh beberapa bulan mendekati tahun 2010 saya harus pulang kampung, meninggalkan kota Tangerang dan Jakarta yang pernah saya taklukan, saya sudah bosan dengan kehidupan Jakarta, saya percaya internet akan mengubah kehidupan saya, lepas itu, saya diajak Romo Krijito yang kebetulan dulu seorang romo yang pernah mendoakan saya sembuh dari radang ginjal saya. Saya bertemu kembali dengan beliau di internet, dari mailing list kemudian berlanjut ke chatting. Dan akhirnya saya pun bertemu langsung dengan beliau.

Saya diajak Romo Kir, demikian panggilan romo nyentrik ini, saya diajak sama Romo Kir belajar dari alam, bahkan saya suka dijuluki “setan internet” oleh Romo Kir, karena saya banyak malang melintang di index pencarian google. Saya membantu Romo Kir dalam membuat website, menulis berita dan juga membagikan ilmu saya di bidang komputer dan internet pada penduduk desa. Di lereng merapi itulah edukasi berbasis alam dan budaya anak anak sekolah melakukan live in.


Saya banyak belajar dari Romo Kir, banyak belajar dari alam. Banyak perubahan perubahan dalam diri saya, saya ini seorang pemberontak, saya agak kedengaran sombong, dalam sebuah komunitas saya selalu menjadi warna tersendiri ( menohok guru guru imersi nih ye ). Saya banyak belajar dari orang desa yang kaya ajaran linuwih, bahkan Pancasila itu ajaran utamanya juga ajaran wong deso, yang aslinya mengajarkan guyub rukun.

Di Merapi itu, saya semakin tekun menulis artikel,terutama artikel edukasi berbasis alam dan budaya, juga menulis tentang dunia teknologi sebagai sarana mencari uang saku, menulis di media Tabloid Komputer PC Plus ( Gramedia Group ) menjadi sebuah hoby yang sangat menarik. Di atas gunung saya memantau perkembangan internet, juga pengembangan belajar dunia website serta hacking.

Di live in lereng Merapi itu, saya akhirnya juga bertemu dengan Romo Singgih Guritno yang sehabis ditahbiskan menjadi romo langsung ditugaskan di atas gunung, alias disuruh bertapa dulu bak pendekar persilatan. “Romo Gunung” saya biasa memberi nama pada Romo Kirjito dan Romo Singgih. Ada banyak cerita pulang malam malam jam 01 malam berdua sama Romo Singgih turun dari dusun Tangkil ke Paroki Sumber. Di lereng Merapi itulah saya akhirnya berkenalan dengan guru guru SMA Theresiana 1, saya berkenalan dengan Pak Antonius Kristiadi, Pak Martinus Sutarno, Bu Fransiska Linawati. Saya tidak ada firasat apa apa yang akhirnya saya sekarang justru bekerja dengan teman teman baik saya itu untuk memajukan Theresiana Schools.

Namun Mei 2010, saya akhirnya harus vakum dari edukasi berbasis alam dan budaya itu, saya mendapat tawaran menarik untuk berkecipung kembali di dunia internet, ada beberapa perusahaan yang menawari saya kerja kontrak yang menarik. Saya tinggalkan kedua romo gunung itu, saya tidak bisa memastikan sampai kapan kontrak kerja itu selesai.

Dan dendam saya pada perusahaan lama pun sedikit mempengaruhi saya, saya kembali ke Jakarta dan Tangerang untuk membuat portal berita industri kreatif. Ditengah mengerjakan tugas itu, teman teman seperjuangan saya dulu bekerja pada sebuah Balai Latihan Kerja, yang area industrinya masih satu kawasan dengan perusahaan saya dulu. Saya diajak membantu dan kenakalan saya pun kambuh, saya menganjurkan membajak karyawan perusahaan lama untuk dipekerjakan. Alhasil eksodus ke tempat kerja yang lebih nyaman dan gajinya lebih baik mendapatkan sambutan yang positif dari pekerja yang pernah saya perjuangkan nasibnya dalam kesejahteraan.

Edukasi Berbasis Teknologi ( Turun Gunung Menjadi Pendekar Teknologi )

Namun sebuah sms masuk ke handphone bulukan saya Nukiyem 6020, hape yang setia menemani saya. Sms yang memberitahu kalau Romo Singgih sudah berpindah ke Semarang, saya awalnya merasakan kehilangan Romo Singgih ini. Ya sudah, namanya romo, ditugaskan di mana saja menjadi urusan keuskupan, umat kagak boleh protes. Saya kembali menyibukan diri bekerja menyelesaikan kontrak.

Kembali beberapa minggu kemudian, Romo Singgih mengusik kesibukan saya, Romo Singgih mengajak saya untuk membantu membuat website untuk kantornya, saya awalnya tidak diberitahu saya Romo Singgih, website untuk apa, ternyata setelah saya desak itu website untuk sekolah Theresiana. Saya merasa tergetar kembali kenangan saya, susahnya mengatur anak anak SMA Theresiana 1 waktu live in, sampai sampai saya mengecap anak anak SMA Theresiana 1 susah diatur, bahkan saya anggap seperti kumpulan gerombolan.


Toh, tawaran itu tidak serta saya iyakan, kulupakan sejenak tawaran itu, masih banyak ilmu yang harus saya dapatkan untuk menambah kemampuan saya di bidang IT. Ketika chatting dengan Romo Kir, “Mas Kus, pulanglah temui Romo Singgih di Semarang, ya .. “ begitu pesan Romo Kir. Di mata Romo Kir, saya seorang penurut, jadi kalau anda mau memperalat saya, minta tolong Romo Kirjito pasti akan mudah. Saya ini seorang pembantah. Lebih ekstrim lagi disebut sebagai golongan kiri.

Akhirnya saya harus meninggalkan kontrak saya, saya tidak ada firasat apa apa. Namun satu hal, saya bergumam, dari edukasi berbasis buruh, kemudian edukasi berbasis alam dan budaya, kini saya harus mengemban tugas edukasi berbasis teknologi. Sungguh tugas yang tidak ringan, saya bukan siapa siapa di dunia komputer dan internet, saya masih gagap teknologi, saya masih banyak belajar, saya masih banyak kekurangan. Saya tidak pernah bercita cita menjadi seorang ahli IT, karena saya hidup tidak pernah punya cita cita, seperti halnya seorang buruh pabrik, menikmati hari ini makan saja sudah senang.

Ada banyak tugas yang dibebankan pada saya, terutama mengubah sudut pandang guru guru dan karyawan di bidang komputer dan internet, saya merasa keder juga, menghadapi para sarjana dari berbagai disiplin ilmu, sedang saya sekolah saya sering tidak bener, suka bolos, nyontek, bahkan yang paling sering adalah berantem. Namun satu hal yang tidak dipunyai di banding orang lain, saya mudah belajar sendiri, saya tidak suka diajari jika tidak minta diajari, apalagi digurui dalam bidang saya, bisa kumat ilmu hacking saya.

Sudah hampir satu setengah tahun di Theresiana School, saya masih banyak kekurangan, saya baru memberikan ilmu dan tenaga saya kurang 10 %, namun saya dibayar 100 %. Masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan, membangun infrastruktur IT tidak semudah anda bayangkan, jika selama ini masih banyak masalah internet down karena itu keterbatasan ilmu saya sebagai seorang musafir. Tidak mudah karena saya harus bekerja sendiri, baik dalam pembuatan website, pembuatan infrastruktur, training, manajemen hardware, pembiayaan, maintenance, dan tentu saja pembuatan kurikulum pendidikan komputer yang berjenjang, ditambah lagi kini, pendidikan berbasis onlie atau e-learning. Tugas semakin banyak dan semakin bertambah, tanggung jawab semakin besar, dan saya pun semakin bisa belajar apa arti manajemen waktu, saya tidak pernah punya alasan untuk membantah tugas : pekerjaan saya sudah banyak. Menjadi orang bertanggung jawab itu tidak mudah, orang hanya mau nanggungnya, jawabnya yang tidak mau. Saya tidak menjanjikan apa apa dalam edukasi berbasis teknologi ini. Kita sedang berproses ke e-learning, boro boro ngomongi hasil, embrio sudah terbuahi, menunggu kelahiran era baru Theresiana, IT menjadi martabat dan harga diri sekolah sekolah Theresiana.

Di dunia persilatan internet dan komputer, tidak ada satupun yang berani menganggap ahli, setiap orang yang berkompeten di bidang teknologi selalu saja mengatakan masih banyak belajar, masih gaptek, itu menjadi ukuran paling utama sebagai seorang pendekar IT. “Di atas langit ada langit” sebuah petuah bijak cerita silat Raden Bentar ketika berguru ke Tibet, anak dari Bramakumbara raja Madangkara dalam serial Saur Sepuh.

Mari kawan kawanku guru guru Theresiana, keberhasilan pendidikan komputer dan internet tidak terletak pada diri saya, tapi pada anda anda, saya mendedikasikan ilmu yang saya punyai. Tidak ada gading yang tak retak, kita tidak bicara hasil, dunia teknologi ditekankan pada proses. Hidup adalah perubahan, mari kita ubah, dan saya percaya serta yakin bahwa :

"Di Theresiana Schools dunia internet ada di dalamnya"

Semoga


Newer news items:
Older news items:

Comments  

 
-1 #1 KIN DATE_FORMAT_LC1
nice post ini gan!

:sundulup:
Quote
 

FORM_HEADER


FORM_CAPTCHA
FORM_CAPTCHA_REFRESH