Content View Hits : 144547

 

 

 

 

 

 

We have guests online

Mengubah Paradigma Dari Konvensional Ke Online

09NOVEMBER_SHORT2011
User Rating: / 0
PoorBest 

Beberapa waktu yang lalu, Sabtu 29 Oktober dan 1 November 2011, tiba tiba saya diundang dalam rapat oleh Pak Bernadus Anindyo selaku kepala bagian Penelitian dan Pengembangan Direktorat Theresiana Yayasan Bernardus, tak seperti biasanya saya rapat dengan bidang lain, namun kali ini saya pun diminta untuk menyampaikan yang berkaitan dengan website ini juga tentang model model pembelajaran berbasis online. Rapat yang waktunya terbatas itu, saya tanpa persiapan sama sekali, hanya dengan bekal memberikan gambaran website Theresiana yang stagnan karena minimnya artikel dan berita. Namun saya juga menyampaikan konsep konsep bentuk model pembelajaran e-learning, ebook dan audio book, atau video book yang sebagai sarana edukasi yang lebih berwarna dibanding pembelajaran konvensional.

Sayangnya, orang Indonesia itu lebih banyak gagap teknologinya, sehingga seringkali sering kesulitan untuk mengerti sampai di mana ilmu IT itu benar benar sangat membantu tugas tugas sehari hari, sekalipun mempunyai notebook, netbook, android tablet, Ipad, hadphone canggih dan lain lain, namun tetap saja alat tersebut sebagai ajang pamer yang bersifat sekedar punya. Perlu saya tekankan, saya di Theresiana Schools tidak mengajak anda menjadi ahli IT, saya tidak punya program melahirkan pakar atau ahli IT dari guru, walau harapan kecil itu ada, namun saya harus mencoba realistis. Menjadi ahli atau pakar itu sulit, dan saya pun sampai hari belum pernah mengangap saya sebagai seorang yang kompeten di bidang ini. Saya datang ke Theresiana agar guru menjadi melek IT. Ibaratnya saya mengajak guru dan karyawan untuk belajar naik mobil, namun saya tidak mengarahkan menjadi pembalap macam Sebastian Vettel atau Fernando Alonso yang bisa menggeber mobil Formula satu sampai 350 KM/jam.

Saya punya 10 poin, saya belajar dari pengalaman. Anda pun harus yakin jika anda memang ingin berubah sudut pandangnya dalam memandang dunia IT.

1. Teknologi dibuat atau diciptakan untuk memudahkan manusia bekerja, dalam arti sempit mengurangi tugas manusia

Berhubungan dengan dunia online sama saja menggunakan teknologi, jadi dengan adanya internet tugas kita semakin mudah, tidak ribet mencari rujukan dengan menghabiskan biaya dan waktu kemana mana, cukup langganan internet anda bisa mencari panduan apa yang anda mau. Tidak ada teknologi yang dibuat untuk membuat ribet tugas manusia, dalam tataran dunia IT disebut dengan social engineering yang di mana sisi kelemahan itu terdapat pada diri manusianya, alat tidak pernah salah, karena alat itu merupakan alat tempur, the right gun in the right battle, setiap senjata punya medan tersendiri, perang di udara berbeda perang di lautan. Belum lagi orang membeli barang tidak mendasarkan pada ergonomis, harga sebanding dengan kinerja. Membeli handphone milihnya canggih, bahkan terkesan mahal sampai kisaran 5 juta, namun membeli laptop atau komputer sangat sensitif harga, sudah berharga murah masih menuntut kinerja komputer yang hebat, padahal komputer itu punya segmen tersendiri, ada high end, mid end dan low end. Dengan mendasarkan kriteria ini maka anda tidak akan terjebak pameo “Murah njaluk apik”

2. Tinggalkan metode “belajar komputer” menjadi “memanfaatkan komputer”

Komputer dibuat atau diciptakan untuk membantu tugas manusia, itu tolok ukur sebenarnya, jika sudah menganut paham ini, sebagai seorang yang simple tentunya akan lebih dewasa dalam arah penggunaan. Kebanyakan orang akan selalu mempelajari komputer yang justru malah tidak ada hubungannya dengan membantu tugas dirinya sendiri, terkecuali anda dalam hal khusus memang menyenangi “belajar komputer”. Namun jika pembelian komputer atau notebook untuk membantu pekerjaan maka konsep “memanfaatkan komputer” harus lebih di kedepankan. Dalam ranah dunia pendidikan, terlalu banyak murid dijejali berbagai macam program, padahal menurut saya pribadi, pembelajaran TIK itu untuk membantu semua mata pelajaran. Metode metode atau konsep konsep pembelajaran TIK itu seharusnya bisa diakomodasi ke pembelajaran lain, sebagai contoh, bisakah Adobe Photosop ditarik ke ranah mata pelajaran bahasa Indonesia ? ataukah Corel Draw ditarik ke ranah Bahasa Inggris ? tentunya anda punya model model tersendiri untuk mengaplikasi sebuah program untuk membantu tugas anda sebagai seorang pengajar. Jadi dalam ini, saatnya kita mengubah paradigma bahwa memanfaatkan komputer lebih penting dari pada menjejalkan program program yang harus dikuasai oleh anak sekolah.

3. Dalam dunia komputer atau IT bersikaplah “Tidak Tampak Bodoh”

Untuk mengerti IT tidak dibutuhkan otak brilian, internet sebenarnya membuat manusia menjadi bodoh nan bebal. Dengan metode pencarian google, otak anda tidak terpakai banyak, internet sepertinya membantu, namun lepas dari internet kebanyakan kita tidak mengingat lagi alias menjadi bodoh. Ketika saya ditanyakan suatu hal yang saya tidak tahu, saya tutupi ketidaktahuan atau kebodohan saya dengan mencoba mengalihkan “Kita cari di google yuk .. “.

4. Cari metode atau filosofi dalam belajar dunia online, gunakan metode yang paling sesuai dengan kemampuan anda

Belajar ada tata cara, dalam kamus saya istilahnya belajar punya filosofi, metode atau konsep konsep tertentu, setiap disiplin ilmu punya filosofinya sendiri. Sebagai contoh anda bisa saja menggunakan metode menulis kembali sebuah hal yang dirasa anda ingin diketahui, saya ingin mengerti bagaimana cara menginstall sistem operasi, setiap langkah satu tulis agar saya bisa mengingatnya kembali menengok ke blog atau website. Bahkan mungkin anda mau menghafalkan istilah istilah IT, atau mungin dengan cara trial dan error, coba dulu, urusan belakangan. Namun saya lebih suka menggunakan konsep social engineering, manipulasi atau mungkin secara umum melihat sekitarnya.

5. Berdayakan gadget atau alat yang anda punya untuk mendukung proses belajar mengajar, jangan semata mata alat yang anda punya sebatas gaul atau gengsi belaka

Coba periksa tas dan saku anda, anda apa aja ? handphoke canggih namun hanya sebatas sms dan calling belaka, alat alat tersebut sebenarnya bukan sebatas alat komunikasi saja, banyak fitur fitur yang membantu pekerjaan anda. Sayangnya kebanyakan alat alat yang anda punya itu hanya sebatas mengejar gengsi dan gaul belaka. Latah ! kalau menurut bahasa kasarnya, sekedar ikut ikutan mempunyai, sudah gitu masih stereotip negatif “ Yang penting punya, reseh amat sih lu”

6. Belajar netiket atau etika berinternet itu perlu, tanpa netiket anda tidak bisa belajar fokus di internet alias menjadi tukang njeplak di media internet yang berakibat menjadi permusuhan, flaming, atau fitnah sehingga internet menjadi musuh anda

Banyak orang yang salah kaprah, dunia online sering kali menjadi sumpah serapah, ajang flaming, alasanya karena tidak berhadapan langsung sehingga tidak mengindahkan etika, sebagai contoh misalnya soal update status facebook, kita sering kali tidak fokus dalam berkomentar, kita sering asal njeplak, antara update status tidak “nyambung” dengan komentar. Namun sisi lain anda akan mengatakan bahwa itu sekedar guyonan belaka, justru itu sisi yang paling lemah, anda menganggap media online sebagai media hiburan sehingga kebiasan njeplak dan berguyon itu menjadi tipikal anda. Dengan belajar netiket, kita belajar peraturan ketika kita tidak ada yang mengawasi, kita belajar fokus, belajar bagaimana kita menempatkan diri kita. Bangsa ini lebih takut polisi dibanding peraturan. Saya sering mengatakan pada teman online, kata menunjukan citra, bahasa menggunakan kasta.

7. Jangan bawa permasalahan yang timbul di internet ke dunia nyata, samarkan nama dan pribadi anda

Terkadang kita mendapatkan suatu permasalahan di dunia online, sebagai contoh kasus kasus yang beredar, pembunuhan istri atau suami hanya perkara facebook. Pelaporan tindakan tidak menyenangkan di jejaring sosial ke kantor polisi, dan seabreg permasalahan dunia maya yang menghantui kita karena kita merasa disumpahi, dikritik dan disudutkan. Jangan bawa permasalahan tersebut ke dunia nyata, biarkan kesan buruk tersebut, jangan jadikan perbincangan dengan teman teman di kantor anda. Lebih baik anda menyamarkan nama dan profil anda, siapa tahu ada orang yang berniat buruk menyabot atau menghacking data pribadi kita.

8. Biasakan terlibat dalam forum, mailing list yang membahas topik khusus

Dibanding facebook, forum atau milis selalu membahas kekhususan, penulis awalnya aktif dalam mailing list, ilmu paling banyak didapatkan dalam forum dan milis, dengan adanya komunitas semacam ini, banyak pembelajaran hal yang khusus bisa anda dapatkan, sebagai contoh carilah forum khusus e-learning, forum khusus pembelajaran dan lain lain. Facebook tidak banyak memberikan kontribusi perkembangan otak.

9. Niat dan kemauan sangat penting, “saya bisa begini karena harus begini,kalau tidak begini ya saya tidak punya penghasilan, tidak bisa makan dan lain lain”

Ini juga hal yang dicermati, sekalipun poin 1 sampai 8 anda kerjakan namun anda tidak punya kemauan dan niat sama juga bohong. Beberapa tahun lalu, alasan perut menjadikan saya harus benar benar mempertaruhkan diri saya, kalau saya tidak bisa mengerjakan ini, saya tidak bisa makan. Anda harus memaksa diri anda belajar, belajar harus dipaksa.

10. Kurangi berinteraksi di facebook, facebook membuat anda lupa segalanya, jadikan facebook sebagai media, jadikan blog, forum, info teknologi sebagai fokus anda berinternet

Ini biang keladi permasalahan yang dihinggapi sebagian besar para netter. Jangan jadikan facebook sebagai hal yang utama, bangun pagi, tidur, makan membuat update status, bahkan berdoa pun juga di facebook. Semakin anda narsis anda akan semakin melupakan tugas utama anda.

Berangkat dari sepuluh poin tersebut di atas, yang awalnya saya hanyalah orang tidak mengerti teknologi namun mulai melek, saya perhari mempelajari internet 2-3 jam untuk hal yang khusus, sisanya saya berbisnis di dunia online. Saya lebih suka digolongkan sebagai ITpreneur dibanding dianggap seorang ahli atau pakar atau bahkan hacker, menjadi hacker tidak mudah, menjadi hacker terhalang etika, hacker punya etika tersendiri yang harus ditaati.

Semoga dengan adanya konsep konsep saya mengubah paradigma pembelajaran online ini, bisa menjadikan anda internet sebagai sarana yang sangat membantu anda, bukan hanya dalam lingkup pekerjaan, namun juga keseluruhan hidup anda, anak anda bisa fokus berinternet tanpa takut adanya situs kekerasan dan pornografi. Ajarkan netiket pada anak anak.

( oleh : Yohan Kusmintoro - Pemerhati Teknologi Informasi, Administrator IT Direktorat Theresiana Yayasan Bernardus, Motivator Komunitas Blogger Magelang, Pendamping generasi muda petani Tim Edukasi Tuk Mancur Ngargomulyo Merapi, Kontributor lepas Tabloid Komputer PC Plus, Blogger pengelola website IT www.yohan-enterprise.com )


Newer news items:

FORM_HEADER


FORM_CAPTCHA
FORM_CAPTCHA_REFRESH