Content View Hits : 139356

 Kampus Kampungkali

 

We have guests online

Mengenal Virtual Desktop Infrastructure

26FEBRUARY_SHORT2012
User Rating: / 0
PoorBest 

Tanggal 16 Februari 2012 kemaren saya diundang oleh perusahaan manufacturer teknologi IBM, baru kali ini saya diundang kapasitasnya sebagai administrator IT dua komunitas sekolah yaitu Akademi Farmasi Theresiana dan Akademi Analis Kesehatan Theresiana di mana saya harus menjembatani kebutuhan penerapan teknologi bagi kedua institusi tersebut. Ketika masih berada di kota metropolitan Jakarta, biasanya dalam kapasitas pribadi saya diundang oleh Microsoft, Cisco, atau produsen perangkat keras komputer seperti Toshiba, Asus, MSI, ECS atau Gigabyte,

 

Hari yang tepat sama dengan penggelaran Grand Opening Akademi Analis Kesehatan Theresiana, hanya beda waktu, ibarat orang penting saja, “menclok” dari Hotel Novotel kemudian berpindah ke Hotel Ciputra. Saya sengaja mengajak Pak Lingga Wishnu yang satu satunya guru non TIK sangat concern tentang perkembangan teknologi, alasan itulah mengajak teman baik saya dan teman diskusi teknologi.

Ada dual hal yang sangat benar benar menyita perhatian saya, tak lain Virtual Desktop Infrastructure yang menjadi platform dari cloud computing itu sendiri, di mana nantinya e-learning dan konsep konsep pendidikan sekolah tinggi ditempatkan di atas sistem cloud computing tersebut. Didukung pendidikan masa depan pastilah berbasis teknologi tak terkecuali pendidikan berbasis analis kesehatan dan farmasi.

Virtual Desktop Infrastructure

VDI atau Virtual Desktop Infrastructure sudah bukan merupakan konsep, tapi sudah pada taraf penyempurnaan menuju era cloud computing yang konon akan menggantikan era internet. Internet membuat orang cenderung pasif, pemakai internet kebanyakan “mengambil” dari atas dalam bahasa awam disebut dengan download. Sumbangsih terbesar dalam kontribusi perkembangan internet dilakukan oeh para blogger dengan tulisan yang bisa menggugah orang lain.

Virtual Desktop Infrastructure dalam artian sederhana seperti ini, kita mempunyai data dalam komputer sendiri, bisa komputer pribadi atau komputer kantor, bisa saja notebook. Kita bisa mengakses data tersebut jika kita berdekatan dengan barang tersebut yang tersimpan di hardisk komputer. Masalahnya mobilitas tinggi membuat orang semakin enggan membawa notebook, membawa notebook atau netbook kadang menjadi keterpaksaan bahkan menjadi beban sebagian orang. Orang sekarang lebih suka membawa peralatan yang simple seperti tablet atau gadget macam Android. Mereka suka yang simple dan tidak ribet belum lagi resiko kehilangan notebook atau netbook sehingga data data bisa hilang, padahal jika lebih dewasa, notebook tidak begitu penting yang penting adalah datanya.

Saya pun awalnya berprinsip demikian, notebook boleh rusak atau hilang, tapi datanya tetap aman, sehingga saya berusaha membuat backup di media lain. Lambat laun saya menjadi malas kalau mengcopy terus ke media portable macam flash disk yang kapasitasnya terbatas. Namun hal tersebut tetap tidak aman, karena data yang berada di hardisk masih ada, sehingga jika hilang tetap bisa dipergunakan oleh orang lain. Pikiran saya pun berubah, saya sekarang tidak mempercayai menyimpan data pada komputer, flash disk, media portable, saya lebih mempercayai menyimpan data di NAS ( Network Attached Storage ) atau server. Bagi saya pribadi, dengan berkembangnya banyak virus komputer membuat data saya di dalam komputer menjadi tidak aman. Virus mudah mencuri data perlahan lahan ketika konek internet data akan dicopy satu satu. Sangat riskan sekali. Dengan NAS, saya boleh kehilangan notebook tapi data tetap aman, walaupun NAS pun tidak 100 % aman. Namanya resiko di manapun bisa mengintai, namun dengan NAS yang paling memenuhi kebutuhan saya soal privasi data.

Nah, dengan adanya VDI, kita tetap bisa mengakses data data kita, sayangnya data tersebut belum tentu bisa dibuka di komputer atau notebook, karena masih ditunjang dengan adanya aplikasi, belum tentu aplikasi yang kita punyai berada di komputer pinjaman ketika kita hendaknya mengaksesnya. Apalagi sekarang banyak multi platform, saya memakai Microsoft Windows, sedang teman saya memakai Linux, beda paltform ini biasanya menyulitkan bagi kalangan awam. File presentasi hasil dari Microsoft Office belum tentu normal di buka di Open Office Org di platform Linux, isinya bisa berantakan. Media internet hanya menjadi penghubung antara kita dengan file yang berada di dalam server. Kita hanya sebatas mengakses dan mengeksekusi file tersebut setelah didownload dengan aplikasi yang berada di komputer lokal. File tersebut tidak bisa dibuka di server karena tidak ada aplikasi di dalam server. Eksekusi langsung dari server agar bisa tampil di notebook jelas tidak dimungkinkan.

DVI menjembatani kebutuhan kebutuhan itu, seolah olah kita mempunyai komputer bayangan ( virtual ) walau sebenarnya secara fisik ada, tapi hanya kita meremotenya dari jarak jauh. Di dalam VDI itu barulah bisa ditaruh aplikasi yang bisa diakses dari jarak jauh, selama ini aplikasi yang bisa diakses dari jarak jauh sangat terbatas, itupun juga bukan dalam bentuk aplikasi yang sering kita pakai sehari hari hari. Namun seiring perkembangan dunia internet yang semakin pesat, DVI di masa depan akan menjadi sebuah kenyataan yang pasti.


Cloud Computing

Bahasanya kerennya memang kedengaran aneh, jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia disebut komputasi awan. Dunia internet biasa di sebut dunia maya atau on air alias berada di udara, dengan setengah anekdot, rasanya tidak mungkin meletakkan komputer di udara, jika terkena gaya gravitasi maka akan jatuh, harus ada tempat untuk menaruh komputer tersebut. Dalam hemat saya DVI lebih ke infrastruktur sedangkan cloud computing lebih kepada penggunaan DVI itu sendiri. Dari server server berbasis DVI itu kemudian saling terhubung membentuk semacam network. Saya tidak tahu persis bagaimana konsep itu dijalankan oleh para ahli TI, maklum masih gaptek sekali dalam bidang hal ini.

Cloud computing yang kita kenal dan sangat familiar adalah google docs, anda bisa membuat file berbentuk dokumen, pembukuan, presentasi di google docs dan data anda tersimpan di sana. Dulu kita tidak mungkin melakukan semacam itu, kita hanya bisa meletakkan file hasil kerja komputer lokal ke server, hanya sekedar disimpan tanpa bisa diedit di server. Lambat laun berubah, cloud computing perlahan lahan berkembang, kita bisa menyetel lagu, video langsung dari sumbernya tanpa didownload, seperti berada di video sharing macam youtube.com.

Cloud computing yang sederhana macam youtube.com belum dalam taraf pembuatan hasil video itu sendiri, pembuatan video masih harus dilakukan dengan alat alat yang kita pakai secara manual di dunia darat. Setelah kita membuat file video tersebut kita menguploadnya ke youtube.com, bahkan mengedit video pun juga tidak mungkin dilakukan.


Cloud Computing menjadi jawaban semacam itu, kita bisa mengedit, membuat, mengcopy, mendistribusikan file file tersebut dan di komputer lokal tidak ada apa apa, kosong blas, semua data kita buat dan simpan di server DVI. Sehingga bisa meminimalkan pencurian data di komputer lokal, seperti kasus hilangnya notebook. Jadi seolah olah kita mempunyai komputer di atas awan, dengan adanya awan ini, komputer virtual bisa kita letakkan tanpa terkena gaya gravitasi. Katanya lho ya. Saya tidak tahu persis.

Kini banyak perusahaan manufacturer mengaplikasikan DVI dan Cloud Computing, kita tunggu saja pertempuran mereka menyediakan layanan yang power full. ( Penulis : Yohan Kusmintoro / IT Direktorat Sekolah Theresiana )

FORM_HEADER


FORM_CAPTCHA
FORM_CAPTCHA_REFRESH