Content View Hits : 139372

 Kampus Kampungkali

 

We have guests online

Implementasi TIK Untuk Pembelajaran E-Learning (1)

20OCTOBER_SHORT2011
User Rating: / 0
PoorBest 

Dua hari ini pikiran saya berkecamuk, bukan karena banyak komputer bertumbangan, atau jaringan STGS yang belum selesai, namun saya mendapatkan draft dari SMA Theresiana 1 atau STGS Senior High berupa panduan implementasi TIK untuk pembalajaran e-learning sekolah menengah atas yang berasal dari Kementerian Pendidikan Nasional ( sekarang Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan ). Draft setebal 32 halaman itu benar benar membuat semangat saya kambuh lagi. Mumpung masih punya semangat kerja dan keinginan saya belajar hal yang baru tidak pernah surut ditengah banyaknya pekerjaan, maaf saya tidak punya tipikal : Tugas saya sudah banyak. Why not ? Orang bekerja juga tidak full time, sarapan, makan siang juga memotong jam kerja, bahkan ada yang kabur dari kantor dengan alasan sudah selesai mengajar. Beda dengan anak sekolah, dari pagi sampai bubaran sekolah full time menyimak ilmu dari guru guru Theresiana yang keren keren. Jadi buat apa alasan menghindari tugass yang membuat anda semakin melek internet tanpa begadang, toh beberapa waktu ke depan kita mau tak mau harus terlibat e-learning sebagai platform pendidikan. Belajar tidak ada kata terlambat, sebelum anda tertinggal dari guru atau sekolah lain, marilah kita mencoba implementasi pembelajaran berbasis e-learning. Saya akan mencoba membagikan ilmu saya, tapi maaf, saya harus menggunakan bahasa gaul, kalau menggunakan bahasa kaku, akan membuat anda menjadi tegang, apalagi anak didik kita juga membaca tulisan ini. Jangan paksa saya menggunakan bahasa yang baik, jika anda mengkritik tulisan saya karena bahasanya seperti itu, silakan anda menulis sendiri artikel dan kirimkan ke redaksi website Theresiana. Setiap orang menulis punya gaya bahasa, bahasa preman pasar berbeda dengan bahasa akademis, sedang saya lebih menyukai bahasa dialog.

Menjadi guru harus kreatif, harus punya ide ide brilian, seiring tuntutan jaman yang semakit sengit. Apalagi bangsa tempe ini benar benar sangat tertinggal dengan negara lain, Malaysia contohnya, anak sekolah membeli peralatan berbasis komputer mendapat subsidi dari pemerintah, sedang di Indonesia malah kena pajak, pajak dari komputer itu kemudian dikorup oleh orang macam gayus atau nazaruddin. Tapi semua juga kembali pada diri kita sendiri, saya juga banyak impian di sekolah tercinta kita. Beberapa sekolah yang gurunya saya kenal di Jakarta, suatu hari saya ditunjukan demontrasi anak didiknya merakit robot, atau anak mantan boss saya, di sekolah diajarkan ngeblog memakai wordpress dan blogspot, anak didik diajak pikirannya berkelana dengan cara menulis di media online. Malah ada seorang guru yang kebetulan dulu rekan kerja, semua tugas tugas muridnya didownload lewat blognya, materi yang diajarkan pun juga mencari rujukan ilmu di internet kemudian dishare di halaman facebooknya. "Murid muridku, tugasmu baca artikel ini, besok pagi kita sharing .. " demikian pesan guru kepada anak didiknya lewat facebook.

Pengertian e-learning

Kembali kepada e-learning. Apa itu e-learning ? e-learning merupakan education is choice, edukasi pilihan, pilihan yang bersifat bijak memanfaatkan teknologi untuk mendukung pembelajaran. Secara harfiah, e-learning merupakan sebuah bentuk jenis pembelajaran yang dimungkinkan tersampainya bahan pembelajaran ke anak didik dengan menggunakan berbagai media elektronik, dalam hal yang sempit bisa dikatakan menggunakan internet. Namun dalam cakupan yang luas, e-learning juga bisa menggunakan multimedia, baik itu video, suara, atau media visual namun dalam satu lingkup jaringan (networking), bentuk alat elekronik bisa bermacam macam, bisa tv, radio, mp3 player, dan lain lain.

Saya mengatakan education is choice, artinya anda boleh memilih dua format pembelajaran, pembelajaran konvensional, atau pembelajaran berbasis “sok” modern, atau mungkin anda mengkombinasikan keduanya jika anda seorang guru kreatif. Saya terpaksa memberi tanda kutip pada pilihan pembelajaran berbasis “sok” modern. Artinya di mata orang awam biasa dianggap “Wah kok canggih men”, dan masih ada kesan sinis, “Apa model pembelajaran itu tidak memboroskan biaya”.

Namun, dalam tataran dunia IT yang selama ini saya geluti, sebuah paradigma yang dipegang oleh kaum hacker ( maaf, saya bukan hacker ya, walau saya belajar hacking juga ). Dulu kita mengenal istilah “bangsa yang besar adalah bangsa yang berkarakter besar”, namun istilah itu diplesetkan dalam dunia teknologi “bangsa yang besar adalah bangsa yang berkarakter informasi”. Artinya jika kita menguasai informasi maka kita akan menguasai semuanya, mungkin anda pernah menonton film James Bond yang menceritakan raja media membuat kasus tertentu untuk mempengaruhi publik. Semacam itulah, menguasai media menguasai dunia. Jadi pembelajaran e-learning itu bisa dikatakan mengumpulkan informasi dari media online dan digabungkan dengan materi pembelajaran yang ada dan akhirnya disuguhkan kepada murid berbentuk digital. Jadi dalam e-learning, maaf anda terpaksa harus mengerti dunia teknologi informasi. Ini merupakan tuntutan jaman, anak anak tidak mau sekolah kalau di sekolah tidak ada komputer, tidak ada internet, tidak pelajaran interaktif, terkecuali anda tinggal di daerah tertinggal macam Papua, hanya terima nasib.

A. Implementasi LAN Di Theresiana Schools

Bagaimana implementasi TIK di sekolah kita, terutama untuk SMA Theresiana 1 ? Sejak awal saya masuk Theresiana setahun yang lalu, sekolah ini tidak mempunyai jaringan Local Area Network ( LAN ) yang jelas, internet berbasis hot spot diumbar tanpa terkontrol yang berakibat internet menjadi sebuah parasit yang merugikan, lebih buruk lagi manajemen bandwidth juga tidak dikontrol, internet hanya sebatas ada, namun tidak jelas penggunaannya untuk apa dan untuk siapa ditujukan. Tidak ada pengutamaan mana penggunan internet yang didahulukan, mana yang khusus jalur email, jalur distribusi data, jalur pendidikan dan lain lain.

Berangkat dari itu, saya berkesimpulan, infrastruktur jaringan harus jelas, di mana pun berada, entah kantor, rumah sakit, pastilah akan mempunyai LAN berbasis kabel. Dalam tahap awal, saya menyadari dengan adanya jalur kabel akan memudahkan penggunaan komputer dan internet secara terkontrol. Bahkan malah ada orang sinis “Buat apa membangun jaringan kabel, berbasis wireless tidak ribet”. Memang benar anggapan tersebut, namun jangan salah, dunia internet adalah dunia kejam, penggunaan jaringan wireless berpotensi banyak gangguan luar, untuk menjebol sebuah sistem tidak perlu menjadi seorang hacker, cukup mencari tool tool penjebol semudah anda praktekan. Ketika sebuah komputer masuk jaringan wireless, saat itulah dia menjadi satu bagian sistem, dia akan melakukan sniffing, melakukan penjelajahan lubang mana yang bisa disusupi dengan cara menyuruh tool tersebut mencari lubang, ingat port lubang internet berjumlah ribuan, sebagai contoh, virus masuk menggunakan port lain, karena port utama anda kunci autorunnya. Artinya menjadi urusan maling dengan polisi.


Dengan internet kabel, maka hanya komputer yang terhubung dengan kabel yang mempunyai hak ases, kabel lebih stabil dibanding wireless, internet kabel nihil pencurian bandwidth internet, banyak orang berpikir, sepanjang tidak tercover sinyal maka orang lain tidak bisa memakai internet berbasis wifi, anda salah jika berpikir demikian. Koneksi wifi itu mempunyai dua tipikal, menyebar melingkar seperti air yang kita cemplungkan batu sehingga membuat lingkaran bergerak, tipikal kedua adalah lurus, yang lurus ini sangat berbahaya jangkauannya bisa lebih 5 kilometer, dan sifat kerja internet itu bolak balik download dan upload, beda cara kerja macam televisi atau radio yang hanya menerima saja.


Konsep jaringan wifi menyebar jika kita menggunakan alat bernama wireless router, sifatnya akan menyebar melingkar, semakin dekat semakin mudah mendapatkan koneksi, dalam bahasa wireless biasa disebut “Posisi Menentukan Prestasi”. Sedangkan yang bersifat lurus biasa menggunakan antena kaleng. Dengan antena kaleng ini, sinyal wifi ditembakan dari laptop atau komputer ke arah area yang yang ada wifinya, tembakan ini akan memantul membawa koneksi, akhirnya terjadi hubungan bolak balik, dan internet anda pun tercuri dengan sendirinya, jadi adalah bodoh jika kondisi sekolahan sepi dan beranggapan tidak ada yang memakai internet. Untuk itu jaringan hot spot yang saya bangun menggunakan password dan dienkripsi agar bisa meminimalisir gangguan.

Jadi ketika draft dari Kementerian Pendidikan Nasional ( sekali lagi, sekarang menjadi Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan ), bentuk implementasi pembelajaran e-learning berbasis jaringan kabel menjadi mainstream harus segera diterapkan. Jika anda membangun LAN kabel, apapun platform yang mau diadaptasi tidak bakalan berbenturan. Tidak mungkin saya membangun jaringan wireless sebagai mainstream, selain alatnya tidak terjangkau, cara settingnya juga rumit setengah mati, yang lebih parah tidak bisa mengokomodasi berbagai platform, transfer data dalam jumlah besar tidak bisa diakomodasi dengan wifi, harus memakai jaringan kabel. Jadi sejak awal saya berusaha membangun LAN kabel yang saat ini baru mencapai sekitar 75 %, namun antar gedung sudah tersambung dengan kabel. Jadi tugas kita akan semakin ringan, membangun jaringan kabel juga tidak mudah, bentuk gedung yang terbelit belit. Kabel lama juga malang melintang seperti tiang jemuran, sampai sampai kepala sekolah tercinta kita Bapak Agus Suwarso selalu meledek “Sekolah RSBI kok kabelnya seperti tiang jemuran”. Sekarang sekolah kita sudah bersih dari kabel malang melintang, dan tahap pertama untuk STGS Primary semua kelas sudah terhubung jaringan kabel. Namun setidaknya kita mempunyai cetak biru jalur internet dan jalur kabel harus jelas kemana arahnya.

Tinggal kita selanjutnya adalah menambah jaringan kabel dalam kelas, sisanya kita membutuhkan server yang menurut draft tersebut kita akan menggunakan tenaga luar yang bersifat partner, tidak mungkin semua dihandle oleh saya, bukannya saya tidak mampu, dalam dunia IT dikenal istilah team support, semacam tempat konsultasi. Dan saya mengingatkan pada guru guru SMA Theresiana 1 keberhasilan implementasi e-learning tidak terletak pada saya, tapi pada guru guru itu sendiri. Saya ada batas batas tertentu yang tidak boleh dimasuki, karena wewenang saya lebih kepada pembuatan platform jaringan dan pelaksana lapangan, sisanya guru guru yang melaksanakan. Namun jika kita yakin, kita pasti mampu. Banyak talenta talenta yang bisa saya baca, dalam kursus website berbasis Joomla, semua mengikuti dengan baik, padahal pembuatan website berbasis Joomla itu sangat sulit dan rumit, tidak sembarang orang bisa dan tidak sembarang orang mampu untuk menguasai joomla. Mari kita sambut era e-learning di SMA Theersiana 1.

Bersambung

(Oleh : Yohan Kusmintoro - Pemerhati Teknologi Informasi, Administrator IT Direktorat Yayasan Bernardus Sekolah Sekolah Theresiana, Motivator Komunitas Blogger Magelang, Pendamping generasi muda petani Tim Edukasi Tuk Mancur Ngargomulyo Merapi, Kontributor lepas Tabloid Komputer PC Plus, Blogger pengelola website IT www.yohan-enterprise.com )

FORM_HEADER


FORM_CAPTCHA
FORM_CAPTCHA_REFRESH