Content View Hits : 144662

 

 

 

 

 

 

We have guests online

Mengapa Hari Jumat Puasa dan Pantang?

PDFPrintEmail
09FEBRUARY_SHORT2016
Written by
User Rating: / 0
PoorBest 

(www.qumran2.net)

Jawaban dari pertanyaan di atas harus digali dari praktek tobat kuno. Menurut kesaksian dari biara Subiaco sampai abad keempat belas: Paus tidak pernah mengeluarkan ketentuan agar setiap hari Jumat umat kristiani makan ikan sebagai pengganti daging.

Gagasan pantang, terutama dari daging, berasal dari tradisi Perjanjian Lama dan dunia kafir, yang kemudian berkembang dalam tradisi kekristenan baik Barat maupun Timur. Pantang bukan hanya sekedar tidak makan daging namun memiliki makna mendalam yaitu melawan godaan dan keinginan daging.

Sebagaimana disampaikan dalam peraturan puasa dan pantang, puasa berarti  makan satu kali sehari. Namun makna puasa lebih dari itu. Puasa saja belum cukup, harus ditambahi dengan laku doa dan amal kasih (sedekah) sebagaimana sudah ada sejak Perjanjian Lama. Praktek pertobatan memuat 3 hal dan merupakan satu kesatuan, yaitu: puasa, doa dan amal kasih (sedekah).

Puasa kristiani mendapat model dan makna aslinya dalam Yesus. Tuhan Yesus tidak menjalankan praktek puasa, namun mengingatkan bahwa perlu puasa untuk melawan kekuatan jahat dan menunjukkan cara dan tujuan hidup yang sejati.

Selama empat puluh hari, Yesus berpuasa di padang gurun dan kemudian mendapat godaan Setan agar Dia melampaui ketaatannya pada Allah. Melawan godaan itu Yesus berkata, "Manusia hidup bukan hanya dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah" (Mat 4:4).

Makna terdalam dari puasa tak dapat dipisahkan dari peristiwa wafat dan kebangkitan Yesus. Puasa sering dihubungkan dengan penderitaan Yesus di jalan dan kayu salib. Kematian Yesus yang nota bena hari Jumat, menghasilkan penebusan dosa.

Dalam kalendarium liturgi ditetapkan 2 hari wajib puasa dan pantang yaitu pada hari Jumat Agung dan Rabu Abu. Tradis kristiani Eropa memperpanjang masa pantang yaitu hari Jumat sepanjang tahun merupakan hari pantang daging.

Menurut tradisi Kristen kelasik dan akibat pengaruh pola hidup monastik, puasa sebagai bentuk penitensi dijalankan dengan cara: makan sekali dalam sehari, kemudian dilanjutkan malam tirakatan untuk mendengarkan firman Allah dan ditutup dengan doa bersama sebagai sebuah komunitas.

Mulai abad keempat itu prakatek puasa diadakan selama Prapaskah bagi para katekumen dan pendosa yang akan kembali ke pangkuan Gereja. Santo Leo Agung menegaskan bahwa puasa kristiani yang sejati perlu  bukan hanya untuk menjauhkan diri dari makanan tetapi dari semua dosa.

Konsili Vatikan II memperkaya puasa dari sisi pembaruan pastoral. Puasa ditandai dengan amal kasih yang nyata melalui karya-karya amal, keadilan dan solidaritas.

Masa prapaskah adalah masa tobat yang ditandai dengan puasa dan pantang. Puasa dan pantang merupakan undangan Yesus kepada murid-murid-Nya agar memiliki hidup yang lebih bermutu.

Tuhan Yesus mengingatkan: “Sebab hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian… Jadi, janganlah kamu mempersoalkan apa yang akan kamu makan atau apa yang akan kamu minum dan janganlah cemas hatimu… Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu”. (Luk 12:23,29,31). (-rmk)


Newer news items:
Older news items: