Content View Hits : 144663

 

 

 

 

 

 

We have guests online

Surat Gembala Prapaskah KAS 2016

PDFPrintEmail
01FEBRUARY_SHORT2016
Written by
User Rating: / 2
PoorBest 

“Diutus menjadi garam dan terang bagi masyarakat”

Dibacakan/diterangkan pada hari Sabtu-Minggu,

6-7 Februari 2016

Saudara-saudariku yang terkasih

Memasuki tahun 2016, umat Allah KAS telah memiliki ARDAS VII untuk periode 2016-2020. Dalam semangat ARDAS yang baru ini, kita ingin menapaki peziarahan iman, dengan bergotong royong memperjuangkan Peradaban Kasih melalui hidup bersama yang sejahtera, bermartabat dan beriman, sebagaimana dicita-citakan dalam Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang (RIKAS) 2016-2035. Apa yang kita cita-citakan ini tentulah bagian dari perwujudan iman kita. Kita hidup bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga diutus hadir dan tinggal bersama warga masyarakat lainnya. Secara istimewa pada Tahun Yubileum Kerahiman Allah ini, kita diutus menampilkan Wajah Kerahiman Allah. Dia sungguh baik, peduli dan penuh kasih.

Bacaan-bacaan yang kita dengarkan hari ini menegaskan arti perutusan. Allah memilih dan mengutus beberapa orang memberi­takan kabar baik dan memberi kesaksian akan kebaikan  hati-Nya di tengah kehidupan nyata. Nabi Yesaya memiliki ketakutan dan tidak siap mengemban perutusan hidup di tengah-tengah suasana yang muram. “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, Tuhan semesta alam” (Yes 6:5). Yesaya merasa tidak pantas menjadi seorang utusan, namun akhirnya dengan penuh iman berkata: “Inilah aku, utuslah aku!” (Yes 6:8).

Perasaan yang serupa juga dialami oleh para murid Yesus. Simon dipilih dan dipanggil oleh Yesus untuk ikut serta dalam karya-Nya. Merasa diri lemah dan tak layak mengemban perutusan, Simon menjawab: “Tuhan, pergilah dari padaku sebab aku ini orang berdosa” (Luk 5:8). Akan tetapi Yesus menguatkan hati Simon dengan berkata: “Jangan takut! Mulai sekarang engkau akan menjala manusia” (Luk 5:10).

 

Saudari-saudara yang terkasih

Kadang kita pun merasa tidak pantas untuk mengemban tugas perutusan. Kita disadarkan bahwa justru dalam pengakuan akan kelemahan dan keterbatasan tersebut, kita merasakan kekuatan Allah yang berkarya. Seperti nabi Yesaya yang tinggal di tengah bangsa yang suram, kita juga tinggal di tengah-tengah bangsa yang masih diwarnai oleh kesuraman karena berbagai masalah, antara lain pemaksaaan kehendak dan kekerasan, pengrusakan alam, dan korupsi serta lemahnya penegakan hukum. Dalam situasi seperti itu Yesus menghendaki kita bertolak ke tempat yang dalam (Luk 5:4), agar hidup semakin bermak­na dan berbuah.

Sebagai umat beriman, kita disadarkan akan hakikat kita sebagai  garam dan terang dunia (Mat 5:13-14). Sabda Yesus kepada para murid inilah yang dijadikan tema Aksi Puasa Pembangunan 2016: “Akulah garam dan terang dunia”. Tema ini menyadarkan jati-diri kita sebagai murid Yesus yang siap diutus untuk menaburkan garam kebaikan di tengah masyarakat sehingga kehidupan bersama tidak terasa hambar; untuk membawa terang sehingga memungkinkan setiap orang menemukan kebenaran dan jalan keselamatan. Seperti Simon dan Yesaya, semoga kita, murid Tuhan ini, juga berani menanggapi panggilan Yesus dengan memberikan jawaban: “Inilah aku; utuslah aku menjadi garam dan terang dunia”.

Kita yakin bahwa panggilan dan perutusan kita sebagai garam dan terang dunia akan semakin meman­tap­kan iman kita. Dengan iman yang mantap itu kita memberi kesaksian melalui keteladan dan perbuatan yang berkenan kepada Allah serta berguna bagi masyarakat. Gagasan Romo Albertus Soegijapranata SJ tentang lingkungan, sewaktu masih berkarya di Bintaran pada tahun 1934, mendorong umat katolik untuk hadir dan terlibat dalam kehidupan bermasya­rakat. Romo Soegija mengung­kap­kan: “Alangkah baiknya kalau dalam setiap wilayah pemukiman terdapat ‘seorang pribumi yang bersemangat’ yang dapat mengumpulkan orang-orang katolik, supaya orang katolik tidak ‘berkedudukan’ di luar lingkungan hidup mereka  (berkumpul pada hari Minggu di gedung gereja), melainkan supaya orang katolik tinggal di tengah-tengah masyarakat, sebagai orang beriman menjadi satu dengan hidup sosial”. Pemikiran itulah yang kemudian melahirkan sistem lingkungan dalam tata penggembalaan umat di paroki-paroki dan sangat khas di Jawa. Sistem lingkungan bukan semata-mata sistem administrasi, melainkan sebagai sarana keterlibatan sosial, supaya iman kristiani benar-benar berakar di masyarakat. Melalui karya nyata dalam keterli­batan sosial di tengah masyarakat, kita mengem­ban tugas perutusan sebagai garam dan terang dunia.

Aneka karya karitatif dan pemberdayaan bagi umat dan masyarakat, perlu terus ditingkatkan. Tindakan nyata memba­ngun budaya transparansi dan akuntabilitas sebagai upaya mela­wan tindak korupsi, tentu sangat bermanfaat. Budaya memilah dan meletak­kan sampah pada tempatnya, membuat sumur resapan, dan memanfaatkan air hujan merupakan sarana kepedulian terhadap lingkungan hidup dan kelestariannya. Hal ini merupakan tindakan bijaksana yang perlu terus dikembang­kan. Selain itu, dengan rendah hati, kita mau belajar pada komunitas lain yang mempunyai kepedulian dan bertindak secara nyata demi kebaikan bersama (bonum commune).

UU RI Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, mendorong kita untuk ikut serta membangun dan mengembangkan desa dengan cara kita masing-masing. Pada pasal 18 UU itu ditegaskan bahwa kewenangan Desa meliputi kewenangan di bidang Penyeleng­garaan Pemerintahan Desa, Pelaksanaan Pembangunan Desa, Pem­bi­naan Kemasya­ra­katan Desa, dan Pemberdayaan Masyara­kat Desa. Dengan memahami dan mendalami apa yang tertuang dalam UU itu, serta dalam semangat kerjasama yang sinergis dengan berbagai pihak, Pengurus Dewan Paroki bersama umat Katolik dapat mengambil bagian dalam salah satu bidang tersebut guna mewujudkan diri sebagai garam dan terang di tengah masyarakat.

Saudari-saudara yang terkasih

Saya, bersama Kolegium Konsultor Keuskupan, mengucap­kan terima kasih kepada seluruh umat, komunitas Hidup Bakti, dan paguyuban-paguyuban atas partisipasi­nya mengembang­kan Ge­re­­ja KAS. Kita yakin, usaha kecil dan sederhana yang telah dilakukan menjadi cahaya dalam kehi­dupan yang masih diliputi kesuraman. Kita terus berdoa agar umat Allah KAS, dalam terang Rencana Induk Keuskupan 2016-2035 dan semangat ARDAS KAS 2016-2020, semakin meneguh­­kan peran sebagai garam dan terang dunia. Rama Kardinal Darmajuwana menegaskan: “Tidak ada tenaga yang tidak berguna meski kecil sekalipun, asal mau. Meski kita lemah namun Tuhan memberi kekuatan. Tuhan memilih yang lemah untuk memberi hikmah kepada yang kuat”.

Mari kita saling mendoakan dan meneguhkan. Kita berdoa dan memberi perhatian bagi para ‘Adi Yuswa’ dan yang sedang sakit di manapun berada, agar rahmat Tuhan menguatkan mereka; bagi yang difabel, agar diberi anugerah penghibur­an dan pertolongan; bagi keluarga-keluarga, agar senantiasa mengupayakan keru­kun­an, damai dan sejahtera. Pintu Kerahiman Allah dan belaskasih-Nya diwujudkan dan dinyatakan dalam cara bertin­dak dengan saling memberi perha­­tian dan dukungan.

Sebagai umat Allah KAS, mari kita bergerak bersama agar sebagai garam tetap mampu memberikan rasa asin, meskipun harus melarutkan diri dan tidak kelihatan dalam kehidupan bersama. Dan sebagai terang mampu menjadi cahaya di tengah kegelapan.

Semarang, 25 Januari 2016,

pada Pesta Bertobatnya St. Paulus

Tahun Luar Biasa Yubileum Kerahiman Allah.

Salam, doa dan berkah Dalem,

FX. Sukendar Wignyosumarta, Pr

Administrator Diosesan KAS.

 

Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang 2016-2020

PDFPrintEmail
28JANUARY_SHORT2016
Written by

MEMBANGUN GEREJA YANG INKLUSIF, INOVATIF DAN TRANSFORMATIF DEMI TERWUJUDNYA PERADABAN KASIH DI INDONESIA

Umat Allah Keuskupan Agung Semarang, sebagai persekutuan paguyuban-paguyuban murid-murid Yesus Kristus dalam bimbingan Roh Kudus bertekad dan bergotong royong memperjuangkan hidup bersama yang sejahtera, bermartabat, beriman, demi terwujudnya peradaban kasih, tanda kehadiran Kerajaan Allah.

Bersama masyarakat Indonesia yang sedang menghidupi kembali nilai-nilai Pancasila di era kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, umat Allah Keuskupan Agung Semarang mewujudkan diri sebagai Gereja yang, merengkuh dan bekerjasama dengan semua orang (inklusif), terus menerus membarui diri (inovatif) dan berdaya ubah (transformatif).

Cita-cita tersebut diwujudkan dengan: pengembangan iman umat yang cerdas, tangguh, misioner dan dialogis secara berjenjang dan berkelanjutan; pengembangan keluarga, lingkungan dan kelompok-kelompok umat agar lebih berperan dalam masyarakat; peningkatan pelayanan karitatif dan pemberdayaan kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel agar semakin sejahtera dan bermartabat; serta peningkatan peran dan keterlibatan kaum awam dalam gerakan sosial, budaya, ekonomi, politik dan pelestarian lingkungan dengan semangat pembelajaran, kejujuran, dan kerjasama. Upaya tersebut didukung dengan transparansi dan akuntabilitas dalam tata kelola paroki dan lembaga-lembaga karya serta peningkatan spiritualitas dan profesionalitas para pelayan pastoral.

Umat Allah Keuskupan Agung Semarang dengan tulus, setia, dan rendah hati bertekad bulat melaksanakan upaya tersebut, serta mempercayakan diri pada penyelenggaraan ilahi seturut teladan Maria, hamba Allah dan bunda Gereja.

Allah yang memulai pekerjaan baik di antara kita akan menyelesaikannya (bdk. Flp 1:6)

 

Surat Gembala HAK 2016

PDFPrintEmail
08JANUARY_SHORT2016
Written by
User Rating: / 2
PoorBest 

Menghadirkan Gereja Yang Inklusif, Inovatif dan Transformatif Melalui Dialog Ekumenis dan Interreligius”

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Seraya mengenang mendiang Mgr. Johannes Pujasumarta, Bapak Uskup Agung kita yang berpulang ke rumah Bapa, 10 November 2015 yang lalu, kita kembali memasuki Pekan Doa Sedunia (PDS) untuk Kesatuan Umat Kristiani yang setiap tahun kita laksanakan pada tanggal 18-25 Januari. Kita berdoa agar Keuskupan Agung Semarang dianugerahi Uskup yang baru yang akan menggembalakan kita semua.

Tema Pekan Doa Sedunia kali ini diolah berdasarkan kutipan dari surat pertama St. Petrus “Panggilan untuk Mewartakan Perbuatan-Perbuatan Tuhan yang Besar” (bdk. 1 Petrus 2:9). Dengan tema itu, kita diajak untuk mewartakan bahwa persatuan dan persaudaraan para murid Kristus adalah karya agung Tuhan sendiri. Yesus sendiri berdoa agar para murid-Nya bersatu, sama seperti Yesus Kristus bersatu dengan Bapa, sehingga dunia percaya bahwa Kristus adalah utusan Bapa (lih. Yoh 17:20-23).

Tema Pekan Doa Sedunia tahun 2016 dirumuskan dan dipersiapkan dalam pertemuan di Riga, Latvia. Riga adalah ibu kota Latvia, sebuah negara bekas Uni Soviet yang berada di Laut Baltik, antara Lithuania dan Estonia. Sebagai negara bekas komunisme, umat dan masyarakatnya masih mengalami trauma-trauma penderitaan akibat perpecahan. Syukur kepada Allah, dalam situasi yang pedih dan pahit itu, umat Kristiani dari berbagai denominasi di sana dapat hidup rukun bersatu. Mereka memiliki kebiasaan berdoa bersama dalam suasana penuh persahabatan.

Berangkat dari pengalaman tersebut, selama Pekan Doa Sedunia, kita diajak mewartakan perbuatan-perbuatan besar yang dikerjakan Tuhan dalam rangka persatuan dan persaudaraan sejati di antara kita. Disadari dengan rendah hati dan jujur bahwa perpecahan di antara umat Kristiani merupakan halangan bagi pewartaan sukacita Injil. Dunia tidak bisa percaya bahwa kita adalah murid-murid Kristus bila kita tidak bisa saling mengasihi dan terjebak dalam perpecahan dan pertikaian.

Saudari-saudara yang terkasih,

Kita semua, Umat Allah Keuskupan Agung Semarang bersyukur, pada tahun 2016 ini memiliki Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang (RIKAS) yang akan berlaku hingga tahun 2035. RIKAS 2016-2035 mengajak kita semua berusaha “Mewujudkan Peradaban Kasih dalam Masyarakat Indonesia yang Sejahtera, Bermartabat dan Beriman”. Dalam lima tahun pertama sebagai Arah Dasar ke-7 tahun 2016-2020, kita hayati dan wujudkan jatidiri “Gereja yang Inklusif, Inovatif dan Transformatif”. Kita dipanggil menghayati jatidiri sebagai warga Gereja yang ngrengkuh – dan bekerjasama dengan semua orang, terus menerus membarui diri dan berdaya ubah.

Kita juga bersyukur sebab dalam tujuh tahun terakhir,  telah memberi perhatian untuk Pekan Doa Sedunia sebagai gerakan bersama. Kevikepan-Kevikepan di Keuskupan Agung Semarang telah memberi perhatian dengan menyelenggarakan Ibadat Ekumene bersama dalam rangka Pekan Doa Sedunia, selain Ibadat Ekumene dalam rangka Natal dan Paskah. Paroki-paroki dan komunitas-komunitas, mendaraskan doa untuk kesatuan umat Kristiani dan merenungkan tema-tema harian selama satu pekan sebagaimana dipersiapkan oleh Komisi HAK KAS. Syukur kepada Allah, sejak tahun 2010 diterbitkan dan dibagikan brosur Pekan Doa Sedunia ke paroki-paroki dan komunitas-komunitas se-Keuskupan sebagai bahan doa dan renungan harian selama Pekan Doa Sedunia berlangsung. Sejak tahun 2011, Bapa Uskup telah menetapkan salah satu hari Minggu dalam Pekan Doa Sedunia sebagai Hari Minggu HAK KAS dan seiring dengan itu disampaikan kepada kita Surat Gembala Hari Minggu HAK. Hal-hal ini selayaknya disyukuri dan diwartakan sebagai karya-karya agung Tuhan dalam rangka menghadirkan Gereja yang semakin signifikan dan relevan.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Sesuai dengan ARDAS KAS 2016-2020, mari kita hayati Pekan Doa Sedunia dan Hari Minggu Hubungan Antaragama dan Kepercayaan sebagai upaya menghadirkan Gereja yang inklusif, inovatif dan transformatif. Kita diundang menanggapi fokus pastoral tahun 2016, agar semakin banyak imam, biarawati-biarawan, Dewan Paroki dan pengurus lingkungan terlibat dalam mewujudkan Gereja sebagai komunitas perjumpaan lintasiman dengan berbasis Lingkungan dan menghadirkan Wajah Kerahiman Allah dalam belarasa nyata. Kiranya baik agar ke depan, kegiatan-kegiatan yang bersifat ekumenis dan interreligius kian banyak diwujudkan sebagai program kerja di paroki-paroki serta komunitas. Misalnya, dalam rangka HUT atau Pesta Nama Paroki, atau peringatan hari nasional, selain perayaan liturgis, juga diselenggarakan perayaan yang bersifat kemasyarakatan-kultural, umpamanya dengan mengadakan selamatan atau kendurèn yang melibatkan masyarakat secara lintas agama, pentas budaya, serta semarak kegiatan pemberdayaan yang melibatkan dan bekerjasama dengan warga serta pemerintah daerah / kota hingga desa setempat untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Bersama Paus Fransiskus dalam rangka Tahun Jubileum Kerahiman Allah dalam Bulla “Misericordiae Vultus” (MV, 11 April 2015), kita percaya bahwa “kerahiman Allah ini akan menumbuhkan sebuah perjumpaan dengan agama-agama lain dan dengan tradisi-tradisi agama mulia lainnya; semoga ini membuka kita untuk lebih kuat berdialog sehingga kita bisa saling mengenal dan memahami dengan lebih baik; semoga ini menghilangkan segala bentuk ketertutupan pikiran dan ketidakhormatan, dan mengusir setiap bentuk kekerasan dan diskriminasi” (MV 23).

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Salah satu tema harian Pekan Doa Sedunia 2016 mengajak kita membangun kehidupan beriman yang bermartabat melalui kata-kata kita sebagai wujud penghayatan martabat imami kita (hari ke-4). Kata-kata kita adalah cermin martabat pribadi sebagai murid-murid Kristus. Paus Fransiskus menulis, “Berapa banyak kata-kata membahayakan diucapkan ketika orang termotivasi oleh rasa cemburu dan iri hati. Menjelekkan orang lain menempatkan mereka dalam terang yang buruk merusak reputasi orang lain dan menjadikan mereka mangsa keinginan bergosip” (MV 14). Kita dipanggil menggunakan kata-kata yang kita ucapkan untuk membangun daripada menghancurkan, merukunkan daripada memecahbelah, mengampuni daripada menghakimi.

Terima kasih kepada saudari-saudara, kaum muda-Remaja, biarawati-biarawan, komunitas dan aneka paguyuban, serta para imam yang telah memanfaatkan bahan renungan dan doa yang ditawarkan dalam rangka semakin mewujudkan doa Yesus agar kita semua bersatu dan menghadirkan Gereja yang menyapa. Segala upaya itu menjadi jawaban bahwa “bangsa-bangsa akan melihat kebenaranmu, dan semua raja akan melihat kemuliaanmu” (Yes 62: 1-5 bacaan 1) Dengan demikian persatuan umat Kristiani semakin nyata karena “ada rupa-rupa karunia tetapi hanya ada satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi hanya satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu, yang mengerjakan semuanya dalam semua orang” (1 Kor 12:4-11, bacaan II). Kita terus menerus perlu mengisi penuh tempayan-tempayan air kita, agar Tuhan mencukupkan keperluan bersama dalam semangat sosial dan belarasa, hingga kita melalukan apa yang Tuhan Yesus katakan sebagaimana perintah Bunda Maria kepada para pelayan, seperti inspirasi bacaan Injil hari ini (Yoh. 2:1-11).

 

Salam, doa dan Berkah Dalem,

Semarang, HR Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda,

Pembukaan Tahun Jubileum Kerahiman Allah dan Promulgasi RIKAS,

8 Desember 2015

FX. Sukendar Wignyosumarta, Pr

Administrator Diosesan KAS

   

Panduan Refleksi Sekolah Theresiana

PDFPrintEmail
08JANUARY_SHORT2016
Written by

PANDUAN REFLEKSI GURU, DOSEN, KARYAWAN, MAHASISWA DAN PESERTA DIDIK

SEKOLAH THERESIANA YAYASAN BERNARDUS


PENGANTAR

Hidup ini diwarnai dengan berbagai pengalaman. Suka dan duka merupakan hal yang wajar. Segala perasaan muncul dan berlalu seakan seperti roda yang selalu berputar. Hidup bergulir begitu cepat dan tanpa kita sadari kita telah melewati serangkaian pengalaman.

Namun demikian, apakah arti dari hidup ini jika akhirnya kita sering melupakan atau bahkan membuang pengalaman-pengalaman yang ada. Kegembiraan menjadi pengalaman yang selalu menjadi kenangan, sedangkan duka seakan menjadi pengalaman yang ingin segera dilupakan. Tidak sepantasnya kita membuang pengalaman begitu saja, sebab setiap pengalaman selalu mempunyai makna. Sekarang tinggal bagaimana kita mau berhenti sejenak dari segala aktivitas dan memaknai segala pengalaman yang ada.

 

PENGERTIAN

Refleksi merupakan salah satu sarana untuk memaknai pengalaman hidup dan juga sarana untuk semakin mengenali diri sendiri. Kata ‘Refleksi’ berasal dari kata bahasa Latin yaitu ‘reflectere’ yang berarti ‘melengkung ke belakang’. Dari arti kata tersebut, proses berefleksi mengajak kita untuk mau menengok kembali setiap pengalaman yang telah kita alami. Kita mau belajar untuk menghargai dan memaknai segala pengalaman yang ada, entah suka maupun duka.

Perlu diperhatikan, bahwa memaknai bukanlah akhir dari proses berefleksi. Ada satu hal yang semestinya menjadi muara atas segala proses refleksi. Hal itu adalah aksi. Aksi di sini mempunyai makna sebagai bentuk pertobatan atau niat untuk semakin memperbaiki diri. Segala pengalaman dimaknai supaya akhirnya kita bisa semakin membentuk diri menjadi pribadi yang utuh.

 

TUJUAN

  • Meningkatkan proses pengenalan diri dan pemahaman akan tindakan yang baik dan yang buruk.
  • Menumbuhkan karakter diri yang reflektif sehingga selalu mau belajar dari pengalaman.
  • Mengembangkan diri sesuai dengan core values Sekolah-sekolah Theresiana: Sukacita, Disiplin, Jujur, dan Peduli.

 

PELAKSANA

Seluruh guru, karyawan, peserta didik/mahasiswa Sekolah/Perguruan Tinggi Theresiana.

 

WAKTU PELAKSANAAN

Pelaksanaan refleksi dilakukan seminggu sekali pada hari terakhir kegiatan belajar mengajar minggu itu. Kurang lebih penulisan refleksi membutuhkan waktu selama 30 menit.

 

TUNTUNAN REFLEKSI

Menulis refleksi bukanlah sekedar menuliskan agenda kegiatan mingguan. Lebih dari itu, refleksi diharapkan mampu mengungkapkan perasaan atau isi hati yang dirasakan oleh setiap orang yang menuliskan. Maka perlu adanya kejujuran dan keterbukaan hati akan perasaan atau pengalaman yang dialami.

Untuk bisa mengingat pengalaman dan mengenali perasaan yang dialami, maka sebelum berefleksi perlu adanya suatu persiapan. Dalam persiapan inilah kita diajak untuk menata hati dan pikiran. Kita mencoba mempersiapkan diri untuk melihat dan berkomunikasi dengan diri kita sendiri.

Persiapan ini bisa kita lakukan dengan menciptakan suasana hening. Dalam keheningan inilah kita diajak untuk menanggalkan sejenak segala beban pikiran yang ada dan menjadikan tubuh kita rileks.

Setelah dirasa cukup dalam persiapan, maka selanjutnya bisa dimulailah dengan penulisan refleksi. Ada beberapa tahap yang sekiranya bisa membantu dalam pembuatan alur refleksi, antara lain sebagai berikut:

 

Pengalaman

Tentukan core values yang akan direfleksikan: sukacita, disiplin, jujur, atau peduli. Selanjutnya coba ingatlah pengalaman-pengalaman yang mewarnai hidup Anda selama seminggu ke belakang, secara khusus yang berkaitan dengan core values. Pengalaman yang diambil bisa pengalaman yang positif maupun yang negatif. (Pengalaman yang positif: kepedulian. Pengalaman yang negatif: ketidakpedulian). Pengalaman bisa dari sekolah, rumah, maupun lingkungan sekitar.

Pilihlah satu atau dua pengalaman yang sekiranya paling menarik dan paling dominan mewarnai hidup Anda. Lalu tuliskanlah pengalaman itu dalam beberapa paragraf awal.

Analisis

Coba temukan sebab apa yang melatarbelakangi atau menjadikan pengalaman itu hadir dalam diri Anda. Suatu kejadian bisa disebabkan oleh karena diri sendiri, tetapi juga bisa disebabkan oleh orang lain.

Temukan dan tuliskanlah pula akibat/reaksi yang muncul setelah kita berhadapan dengan pengalaman tersebut. Reaksi yang muncul bisa berupa perasaan atau tindakan. Kepada siapakah reaksi itu berdampak dan apa dampaknya.

Refleksi

Silakan melihat pengalaman secara lebih luas/obyektif. Tanggalkanlah rasa emosi pribadi, pandangan miring atau negatif dan mencoba untuk memahami situasi.

Cobalah untuk menimbang-nimbang pengalaman yang telah Anda pilih. Cobalah untuk menimbang-nimbang apakah sikap atau pilihan Anda sudah benar atau belum. Jika sikap Anda benar maka kembangkanlah, tetapi jika sikap Anda buruk maka evaluasilah, bertobatlah dan perbarui sikap Anda.

Aksi

Beranjak dari pengalaman dan permenungan di atas, buatlah bentuk aksi konkret ke depan. Aksi di sini bisa sebagai langkah pengembangan maupun juka sebagai bentuk pembaruan diri (pertobatan). Sebagai langkah pengembangan ketika pengalaman dan sikap Anda sudah benar, sedangkan pertobatan harus dilakukan ketika pengalaman dan sikap Anda masih buruk.

Cobalah menjabarkan aksi Anda secara jelas (apa bentuknya, bagaimana caranya, kapan, dll). Aksi tidak harus yang muluk-muluk, tetapi cukup dengan hal yang sederhana asal konsisten dijalankan.

Setelah selesai menuliskan refleksi, silakan ditutup dengan doa. Bersyukurlah bahwa Anda boleh melihat dan memaknai karya Tuhan dalam pengalaman yang Anda tuliskan tadi. Mohonlah berkat Tuhan supaya Dia berkenan membimbing dan memberkati setiap perjalanan hidup Anda selanjutnya. Mohonlah pula rahmat penyertaan-Nya agar Anda bisa mewujudnyatakan setiap niat yang telah Anda buat tadi.

 

PENUTUP

Demikianlah paparan panduan refleksi. Besar harapan lewat panduan ini, setiap guru, karyawan, peserta didik maupun mahasiswa bisa terbantu untuk masuk dalam proses refleksi. Mohon maaf atas segala kekurangan yang ada. Selebihnya, kami ucapkan banyak terima kasih.

 

Bercermin pada Romo Chang

PDFPrintEmail
03MARCH_SHORT2014
Written by


Romo Chang Peng Tu dilahirkan di bagian Utara RRC di daerah perbatasan Rusia. Daerah itu daerah yang sangat dingin. Mulai minggu pertama Oktober, daerahnya mulai bersalju. Dalam satu malam sungai dan danau sudah bisa menjadi beku. Kalau kemarin kapal masih bisa lewat, dalam satu malam, truk bisa lewat, bisa main-main di danau. Akhir April baru datang angin dari selatan, saljupun mulai mencair. Mei mulai menanam. Juni hujan turun tercurah dari langit. Juli panas sekali: tanam-tanaman menjadi tua. Agustus mulai panen. Semua makanan berfungsi menahan panas tubuh. Dan makanan di sana enak-enak: berasnya khas, anggurnya khas. Yang di sini tidak begitu ‘terasa.’ Maka, ketika datang kemari pertama-tama ya merasa panas, dan agak tidak cocok hawanya. Timbul bisul-bisul yang dokter sendiri tidak tahu obatnya. Kalau diberi penisilin, tiga hari sembuh, tapi lalu tumbuh lagi. Tetapi sekarang sudah tidak menjadi soal lagi. Romo Chang Peng Tu Pr. banyak memakan sayur-sayuran yang dirasanya cukup cocok dengan keadaannya sekarang.

Romo Chang Peng Tu berasal dari lingkungan yang sungguh-sungguh Katolik. Semua orang di daerahnya beragama Katolik. Kalau hari Minggu: ada empat misa, ada empat pastor, ada empat kotbah. Jam dua siang ada doa Rosario dengan pujian kepada Sakramen Mahakudus. Pada setiap kesempatan hari besar Gerejani, gereja selalu penuh, meluap.

Para pemimpin masyarakat punya hubungan erat dengan para pastor. Pastor menjadi salah satu unsur pemimpin masyarakat. Banyaknya orang sakit dan tua yang sudah tidak bisa ke gereja, membuat para pastor setiap hari berkeliling untuk mengirim komuni. Pengiriman komuni dilakukan dengan menggunakan kendaraan khas daerah itu sambil membawa bel. Setiap orang yang bertemu dengan pastor yang mengirim komuni berhenti sejenak, berlutut memberi hormat dan memberi kesempatan kepada pastor untuk berjalan lebih dahulu.

Minat akan hal-hal rohani sudah nampak sejak kecil. Bahkan, saking rindunya untuk menerima komuni, Romo Chang pernah menerima komuni sebelum menerima komuni pertama (pingin ngicipi kok, ya Romo-red). Sesudahnya memang dimarahi oleh orangtua, tetapi karena sudah telanjur, ya bagaimana lagi.

Keuskupan tempat Romo Chang tinggal di waktu kecil mencakup lima propinsi. Keuskupan ini dikelola oleh misi dari Paris, Perancis. Yang ada hanya imam-imam Praja. SJ berkarya di Shanghai, Kwantung. Di Keuskupannya, Romo Chang hanya bertemu dengan imam-imam Praja. Para imam di parokinya biasa mendampingi orang sakit, mendampingi orang pesta besar. Inilah pula yang menjadi gambaran Romo Chang Peng Tu dalam imamatnya.

Romo Chang mulai masuk Seminari tahun 1934. Berada di Seminari Menengah sampai tahun 1945. Seminari waktu itu hanya sekali dalam setahun bisa pulang. Kemudian Jepang masuk ke RRC dan mulai menjajah. Setelah Jepang jatuh, RRC mulai menjadi komunis. Satu demi satu kota RRC direbut komunis. Pastor-pastor baik asing maupun pribumi ditangkapi satu per satu dan dipenjarakan. Uskup juga ditangkap. Maka, Seminari pun tidak ada yang mengurus. Semua dibubarkan, disuruh pulang ke rumah masing-masing. Pada waktu itu Romo Chang ada bersama sekitar 900 rekan di asrama. Semuanya bubar sendiri-sendiri.

Bersama dengan empat orang rekannya,  Romo Chang memulai suatu “ziarah” panggilan. Mereka mengadakan perjalanan untuk keluar dari RRC. Mereka berpindah dari satu kota ke kota yang lain. Setiap kali tinggal dan menginap serta makan di pastoran-pastoran yang belum dihancurkan oleh komunis, atau secara sembunyi-sembunyi. Hanya tinggal satu keinginan, dapat menemukan Seminari dan hidup lagi sebagai seminaris untuk mempersiapkan perjalanan hidup sebagai imam. Keinginan sungguh tinggal satu: barang sudah habis, bekal tidak ada lagi, pengharapan pun tinggal satu, semoga dapat menjadi imam. Perjalanan yang panjang ini berlangsung 4 tahun, ketika akhirnya Romo Chang dan kawan-kawan sampai di pantai timur RRC dan bisa menyeberang ke Hongkong.

Di Hongkong akhirnya mereka dapat menemukan Seminari Kecil yang daya tampungnya 30 orang. Padahal yang datang dari RRC sekitar 100 orang. Semua ditampung seadanya: makan seadanya, tidur di lantai. Tetapi semua itu tidak menjadi masalah. Setengah tahun kemudian barulah keadaan mulai teratur. Waktu itu Romo Chang berada di Teologi tahun ketiga yaitu pada tahun 1951.

Tahun 1949-1950 RRC menjadi komunis. Orang-orang yang sudah ada di Hongkong tak bisa pulang. Lalu atas perintah dari Roma mereka disebarkan, didiaspora di Chinese Society supaya bisa kerja. Menjelang tahbisan, Rektor Seminari satu kali pergi ke Hongkong, bertemu dengan duta besar Vatikan yang pernah bertugas di Indonesia, lalu bertanya, Indonesia perlu tenaga pastor Tionghoa atau tidak? Duta besar Vatikan merasa senang sekali, lalu bertanya kepada Mgr. Willekens. Tapi Mgr. Willekens tidak merasa membutuhkan. Mgr. Willekens lalu bertanya kepada Mgr. Soegijapranata. Waktu menerima surat, Romo Beekman sedang bersama Mgr. Soegijapranata. Ia senang sekali: “Saya mau, saya mau.” Dia lalu membalas surat ke Hongkong. Lalu Romo Chang dan rekan-rekannya dipersiapkan dengan retret, dibuatkan paspor, dibuatkan permohonan agar bisa masuk ke Indonesia. Lalu masih harus menunggu setengah tahun lagi. Sulit, karena harus ditanggung oleh Keuskupan: makannya, tidurnya, kerjanya. Karena tidak bisa membawa paspor Taiwan/RRC, maka dibuatkanlah dokumen Vatikan.

Akhirnya, perjalanan panjang pun memperoleh hasilnya. “Tanggal 8 Maret 1952 kami ditahbiskan. Selanjutnya pada tanggal 17 Maret tahun itu juga kami naik kapal selama 8 hari. Sampai di Semarang pada tanggal 25 Maret.” Sejak saat itulah Romo Chang Peng Tu tinggal di Semarang sampai dengan hari ini. Menjadi imam yang paling lama (mungkin) di Semarang.

Ketika sampai di Semarang untuk pertama kalinya, “Saya sungguh iri hati dengan Romo-romo Praja yang ada. Waktu tahbisan mereka diberi satu tas dengan kopernya yang penuh dengan macam-macam. Satu tas penuh dengan kasula, jubah, piala, sibori, monstrans, wirouq. Sementara saya di sana, tidak mendapat satu pun. Dan di sini pun tak ada yang bertanya, tak ada yang memperhatikan: ‘Kamu datang ditahbiskan dari Hongkong itu membawa apa? Juga tidak diberi apa-apa. Syukurlah, sekarang ini saya sudah bisa mencukupi kapel di sekolah-sekolah dan di rumah sendiri ini. Ya, piala yang saya kumpulkan itu, ada yang paling saya senangi, yaitu piala dari seorang umat. Waktu masih muda dia adalah pemain sepakbola, sebagai kapten, dia selalu mendapat piala. Dia punya piala sungguh bagus, hadiah bagi dia. Sebelum mati dia kasihkan piala itu kepada saya. Piala itu ada salibnya atau apa, tetapi saya pakai untuk Misa. Itu piala sepakbola. Itu menjadi kekayaan saya.”

Memang, sebagai orang baru, karya Romo Chang tidak langsung bisa berjalan lancar. Banyak penyesuaian yang harus dialaminya: penyesuaian udara, bahasa, adat-istiadat, dan sebagainya. Dalam hal ini, Romo Chang merasa banyak didukung oleh Pastor Beekman almarhum: “Saya memang sungguh-sungguh dibesarkan oleh Romo Beekman. Saya harus belajar bahasa Indonesia, saya harus menyesuaikan adat di sini, saya harus menyesuaikan dengan romo dan suster di sini. Saya harus kerja sendiri. Di sini banyak suster ataupun romo. Biar dari ordo atau kongregasi mereka mengerti saya bahwa saya mempunyai kesulitan. Saya lapor pada Romo Beekman, beliau menjawab: ‘Saya mengerti, saya percaya, terus jalankan.’ Bagi saya itu suatu dorongan.”

Sesuai dengan maksud Romo Beekman, sejak datang Romo Chang sudah memulai karya di bidang pendidikan. “Saya datang untuk karya khusus pendidikan Tionghoa. Maka, saya datang mulai dengan membuat TK, lalu SD. Dan pada tahun 1965 setelah G30S/PKI semua sekolah Tionghoa ditutup. Kemudian membuat sekolah Indonesia yang diberi nama Theresiana: anak Theresia. Sampai sekarang ada kira-kira 20 sekolah di Semarang, Ambarawa, Bedono, Weleri, Salatiga, Sumowono.”

Berkarya bersama romo-romo Yesuit dan Kongregasi Penyelenggaraan Ilahi, bagi Romo Chang sama sekali tidak menjadi masalah. “Romo Praja sama, Romo SJ sama, Romo siapa itu sama saja. Bedanya hanya ada kongregasi tertentu, ada ordo tertentu. Tapi sebetulnya sama seperti Petrus dan Paulus. Mereka itu tak pernah ada kongregasi, tak pernah ada suatu apa. Jadi, kalau bilang bahwa ada kalangan Praja, ada kalangan SJ atau kongregasi tertentu, ada jeleknya masing-masing. Tergantung pada diri sendiri. Jadi, bukan SJ mendapat apa, Praja mendapat apa. Toh kalau kita mati semuanya itu kan sudah tidak dipakai. Toh itu kenangan dari Keuskupan. Kalau ditempatkan di desa, ya pakai saja. Jadi Praja atau jadi Yesuit itu sama saja: Tuhan satu, panggilan satu, maksud satu, seperti yang dikatakan Santo Paulus. Saya dipanggil tidak untuk mempermandikan orang, saya dipanggil untuk berkotbah, mengajar. Kalau saya tidak mengajar, saya celaka, karena saya sudah ditugaskan, maka mengajar itu sesuai dengan tugas saya. Itu saja. Bukan SJ, bukan Fransiskan, bukan apa saja.”

Begitu banyak sekolah yang kini dipimpin Romo Chang. Pada umumnya, terutama yang di luar kota, didirikan bukan atas inisiatif Romo Chang sendiri, tetapi atas permintaan masyarakat setempat. Kalau masih memungkinkan untuk dilayani, Romo Chang akan melayaninya. Sebagai imam Praja yang berkarya khusus, Romo Chang tidak mengistimewakan karya khususnya itu di hadapan rekan-rekannya: “Itu sesuai dengan panggilan Tuhan. Kalau Tuhan memanggil kamu di sini ya di sini saja. Kalau di situ, ya di situ saja.” Ia melanjutkan, “Panggilan itu macam-macam, seperti yang ada di sekitar Sri Paus, seperti birokrasi. Kalau Sri Paus tak tahu dibantu oleh orang banyak, bagaimana? Biro itu adalah bagian-bagian. Semua bekerja sama.” Bagi Romo Chang yang penting adalah, “Asal saya dalam spesial saya: Brevir saya doakan, Injil saya bacakan, semua kewajiban saya untuk kesucian saya tidak saya lepaskan, maka di paroki atau tidak di paroki, bagi saya sama saja. Sama saja seperti Filipus dan Petrus pergi ke mana saja. Yesus bilang ini: baik, saya lakukan; bilang itu, baik. Ndak tahu Ia bilang apa, kita selalu siap. Ada persiapan mendatang, ada persiapan panjang.”

Prinsip kehidupannya adalah: “Usahakan supaya kamu berhasil, supaya berhasil usahamu. Tidak berhasilpun, kalau sudah berusaha, ya … bagaimanapun kamu sudah berhasil. Kamu sudah usahakan, menyerahkan dan mengerahkan segala jiwa dan ragamu. Jadi, itu tidak tergantung hasil kita. Memang orang jadi senang kalau ada hasilnya (yang kelihatan-red). Dan setiap kali bertemu dengan orang lain, anggaplah itu Tuhan. Kita harus pegang keinginan: saya ingin baik. Maka kalau saya minta ijin, saya minta ijin. Kalau saya harus minta permisi, saya minta permisi: jangan lalu semaunya sendiri.”

Kini Romo Chang tinggal di rumah yang dibangunnya sendiri. Romo kok mempunyai rumah sendiri? Jawabnya: “Dulu saya 12 tahun di Kebon Dalem. Lalu pindah di sekolah. Tinggal di sana, ruangnya kecil sekali. Saya tidak punya rumah. Mau bikin rumah tak punya uang. Romo Kardinal bilang, pergi saja ke pastor-pastor lain. Saya suka, tapi jam mereka lain dengan jam saya. Saya rapat sampai jam sepuluh, pulang ke pastoran makanan sudah habis. Saya pulang rapat, mereka sudah tidur. Saya mengganggu tidur mereka. Dalam salah satu kesempatan saya bisa tinggal di rumah salah seorang umat yang mempercayakan rumahnya untuk saya jaga. Dua kali saya berpindah tempat, sebelum akhirnya membangun rumah ini. Sekarang rumah inilah pastoran saya. Mulai Oktober 1989, inilah rumah saya.”

Rumah yang ditempatinya sekarang memang tdak terlalu besar. “Cukup untuk satu orang,” katanya. Rumah ini cukup lengkap sebagai suatu pastoran: ada kapel, ada ruang perpustakaan yang berisikan buku-buku beraneka ragam, ada ruang kerja, ada ruang rekreasi, ruang tidur, dan ruang makan. Lebih lanjut tentang rumahnya beliau berkata: “Saya orang yang paling bahagia. Lebih bahagia dari yang lain, juga dari Uskup. Saya punya rumah sendiri, meskipun hanya cukup untuk satu orang saja. Ini cukup, dan saya bahagia. Saya bisa makan, saya bisa tidur. Saya punya hobi membaca. Dan saya masih terus membaca sampai sekarang.”

Empat puluh tahun menjadi imam. Empat puluh tahun sudah diabdikannya dirinya sebagai imam di bumi persada Nusantara Indonesia, khususnya dalam Keuskupan Agung Semarang. Hasilnya bisa kita saksikan bersama. Dalam usia yang sudah tidak lagi bisa disebut muda, semangat mudanya masih saja nampak: “Memang, selama ini saya merasa sudah cukup. Memang, saya merasa kaki saya setelah saya setengah tahun 3 kali sakit gula di rumah sakit, lalu mempengaruhi urat syaraf. Turun naik tangga saja sulit. Cuma itu saja yang menjadi kesulitan saya. Yang lain, saya masih bisa melakukannya dengan lancar.”

Ya, beliaulah Praja misioner yang kini telah dan tengah menumbuhkan Kerajaan Allah di bumi Nusantara tercinta ini.

Romo Chang, SELAMAT BERPANCA WINDU IMAMAT.

PROFICIAT, DAN TERIMA KASIH

ATAS SEGALA PENGABDIAN DAN TELADAN ROMO.

SEMOGA SUKSES SAMPAI AKHIRNYA.


Semarang, awal bulan di awal 1992

S.G. Willem Pau, Pr.

   

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL