Content View Hits : 139353

 Kampus Kampungkali

 

We have guests online

Refleksi Tangki Kasih

PDFPrintEmail
07APRIL_SHORT2016
Written by
User Rating: / 2
PoorBest 

 

Saya percaya setiap manusia memiliki “Tangki Kasih” dimana kita dapat membagikan kepada sesama. Sebuah artikel yang saya baca pada Jumat malam kemarin, membuat saya kembali bercermin dalam diri saya sendiri.

Saya sungguh tertarik dengan kata “Tangki cinta/kasih”, ternyata dalam hidup keseharin, saya mengalaminya sungguh.

Bertemu dengan banyak orang, membagikan energi positif, selalu bersukacita, berfikir positif, yang ternyata itu adalah contoh “Tangki Kasih” saya yang saya bagikan kepada sesama.

Dari artikel tersebut saya menjadi sadar bahwa ternyata ada kalanya kita mengambil waktu untuk mengisi tangki-tangki kasih tersebut.

Untuk mengisi “Tangki Kasih” yang hampir kering bisa dengan sekedar pergi makan dengan keluarga, bercanda dengan suami atau anak atau dengan sahabat.

Dan dalam waktu tertentu kita perlu retret rohani untuk “membersihkan” tangki-tangki kasih kita dan mengisinya penuh.

Makna yang dapat dipetik dari pengalaman tersebut:  Menyadari bahwasannya saya perlu selalu memperhatikan isi “Tangki Kasih” saya senantiasa. (RK)

 

Catatan: Diambil dari Buku Refleksi Mingguan Satiawati, atas seijin penulis refleksi.

Foto     : Dok pribadi

 

Menjadi Manusia yang Bahagia

PDFPrintEmail
31MARCH_SHORT2016
Written by

“Engkau mungkin memiliki kekurangan, merasa gelisah dan kadangkala hidup tak tenteram, namun jangan lupa hidupmu adalah sebuah proyek terbesar di dunia ini. Hanya engkau yang sanggup menjaga agar tidak merosot. Ada banyak orang membutuhkanmu, mengagumimu dan mencintaimu.

Aku ingin mengingatkanmu bahwa menjadi bahagia bukan berarti memiliki langit tanpa badai, atau jalan tanpa musibah, atau bekerja tanpa merasa letih, ataupun hubungan tanpa kekecewaan. Menjadi bahagia adalah mencari kekuatan untuk memaafkan, mencari harapan dalam perjuangan, mencari rasa aman di saat ketakutan, mencari kasih di saat perselisihan.

Menjadi bahagia bukan hanya menyimpan senyum, tetapi juga mengolah kesedihan.

Bukan hanya mengenang kejayaan, melainkan juga belajar dari kegagalan.

Bukan hanya bergembira karena menerima tepuk tangan meriah, tetapi juga bergembira meskipun tak ternama.

Menjadi bahagia adalah mengakui bahwa hidup ini berharga, meskipun banyak tantangan, salah paham dan saat-saat krisis.

Menjadi bahagia bukanlah sebuah takdir, yang tak terelakkan, melainkan sebuah kemenangan bagi mereka yang mampu menyongsongnya dengan menjadi diri sendiri.

Menjadi bahagia berarti berhenti memandang diri sebagai korban dari berbagai masalah, melainkan menjadi pelaku dalam sejarah itu sendiri.

Bukan hanya menyeberangi padang gurun yang berada diluar diri kita, tapi lebih dari pada itu, mampu mencari mata air dalam kekeringan batin kita.

Menjadi bahagia adalah mengucap syukur setiap pagi atas mukjizat kehidupan.

Menjadi bahagia bukan merasa takut atas perasaan kita. Melainkan bagaimana membawa diri kita. Untuk menanggungnya dengan berani ketika diri kita ditolak.

Untuk memiliki rasa mantab ketika dikritik, meskipun kritik itu tidak adil.

Dengan mencium anak-anak, merawat orang tua, menciptakan saat-saat indah bersama sahabat-sahabat, meskipun mereka pernah menyakiti kita.

Menjadi bahagia berarti membiarkan hidup anak yang bebas, bahagia dan sederhana yang ada dalam diri kita; memiliki kedewasaan untuk mengaku “saya salah”, memiliki keberanian untuk berkata “maafkan saya”.

Memiliki kepekaan untuk mengutarakan “Aku membutuhkan kamu” ; memiliki kemampuan untuk berkata “Aku….

Dengan demikian hidupmu menjadi sebuah taman yang penuh dengan kesempatan untuk menjadi bahagia.

Di musim semi-mu, jadilah pecinta keriangan. Di musim dingin-mu, jadilah seorang sahabat kebijaksanaan.

Dan ketika engkau melakukan kesalahan, mulailah lagi dari awal. Dengan demikian engkau akan lebih bersemangat dalam menjalankan kehidupan.

Dan engkau akan mengerti bahwa kebahagiaan bukan berarti memiliki kehidupan yang sempurna, melainkan menggunakan airmata untuk menyirami toleransi, menggunakan kehilangan untuk lebih memantabkan kesabaran, kegagalan untuk mengukir ketenangan hati, penderitaan untuk dijadikan landasaan kenikmatan, kesulitan untuk membuka jendela kecerdasan.

Jangan menyerah… Jangan berhenti menghasihi orang orang yang engkau cintai. Jangan menyerah untuk menjadi bahagia karena kehidupan adalah sebuah pertunjukan yang menakjubkan.

Dan engkau adalah seorang manusia yang luar biasa!”

– Paus Fransiskus –


Sumber: http://www.kas.or.id/index.php/2016/02/11/menjadi-manusia-yang-bahagia/

Foto: http://newsitaliane.it

 

Mengapa Hari Jumat Puasa dan Pantang?

PDFPrintEmail
09FEBRUARY_SHORT2016
Written by

(www.qumran2.net)

Jawaban dari pertanyaan di atas harus digali dari praktek tobat kuno. Menurut kesaksian dari biara Subiaco sampai abad keempat belas: Paus tidak pernah mengeluarkan ketentuan agar setiap hari Jumat umat kristiani makan ikan sebagai pengganti daging.

Gagasan pantang, terutama dari daging, berasal dari tradisi Perjanjian Lama dan dunia kafir, yang kemudian berkembang dalam tradisi kekristenan baik Barat maupun Timur. Pantang bukan hanya sekedar tidak makan daging namun memiliki makna mendalam yaitu melawan godaan dan keinginan daging.

Sebagaimana disampaikan dalam peraturan puasa dan pantang, puasa berarti  makan satu kali sehari. Namun makna puasa lebih dari itu. Puasa saja belum cukup, harus ditambahi dengan laku doa dan amal kasih (sedekah) sebagaimana sudah ada sejak Perjanjian Lama. Praktek pertobatan memuat 3 hal dan merupakan satu kesatuan, yaitu: puasa, doa dan amal kasih (sedekah).

Puasa kristiani mendapat model dan makna aslinya dalam Yesus. Tuhan Yesus tidak menjalankan praktek puasa, namun mengingatkan bahwa perlu puasa untuk melawan kekuatan jahat dan menunjukkan cara dan tujuan hidup yang sejati.

Selama empat puluh hari, Yesus berpuasa di padang gurun dan kemudian mendapat godaan Setan agar Dia melampaui ketaatannya pada Allah. Melawan godaan itu Yesus berkata, "Manusia hidup bukan hanya dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah" (Mat 4:4).

Makna terdalam dari puasa tak dapat dipisahkan dari peristiwa wafat dan kebangkitan Yesus. Puasa sering dihubungkan dengan penderitaan Yesus di jalan dan kayu salib. Kematian Yesus yang nota bena hari Jumat, menghasilkan penebusan dosa.

Dalam kalendarium liturgi ditetapkan 2 hari wajib puasa dan pantang yaitu pada hari Jumat Agung dan Rabu Abu. Tradis kristiani Eropa memperpanjang masa pantang yaitu hari Jumat sepanjang tahun merupakan hari pantang daging.

Menurut tradisi Kristen kelasik dan akibat pengaruh pola hidup monastik, puasa sebagai bentuk penitensi dijalankan dengan cara: makan sekali dalam sehari, kemudian dilanjutkan malam tirakatan untuk mendengarkan firman Allah dan ditutup dengan doa bersama sebagai sebuah komunitas.

Mulai abad keempat itu prakatek puasa diadakan selama Prapaskah bagi para katekumen dan pendosa yang akan kembali ke pangkuan Gereja. Santo Leo Agung menegaskan bahwa puasa kristiani yang sejati perlu  bukan hanya untuk menjauhkan diri dari makanan tetapi dari semua dosa.

Konsili Vatikan II memperkaya puasa dari sisi pembaruan pastoral. Puasa ditandai dengan amal kasih yang nyata melalui karya-karya amal, keadilan dan solidaritas.

Masa prapaskah adalah masa tobat yang ditandai dengan puasa dan pantang. Puasa dan pantang merupakan undangan Yesus kepada murid-murid-Nya agar memiliki hidup yang lebih bermutu.

Tuhan Yesus mengingatkan: “Sebab hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian… Jadi, janganlah kamu mempersoalkan apa yang akan kamu makan atau apa yang akan kamu minum dan janganlah cemas hatimu… Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu”. (Luk 12:23,29,31). (-rmk)

   

Menjadi Kudus tanpa harus Terkenal

PDFPrintEmail
06FEBRUARY_SHORT2016
Written by

Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus sangat rendah hati. Dia merasa tidak mampu menapaki jalan menuju kesempurnaan. Namun dia berusaha dengan sekuat tenaga untuk selalau menjadi yang terkecil, supaya Allah melengkapi dan menyelenggarakan segala sesuatu.  Di hadapan Allah, dia ingin menjadi seperti seorang bayi yang digendong oleh ibunya.

Santa Teresia ingin menjadi kudus, namun ia tidak ingin menjadi terkenal. Dia berkata: “Jika aku menjadi bijak, aku membuatnya untuk menyenangkan orang tuaku. Dalam cara yang sama,  aku menjalankan pelayanan bukan untuk menjadi kudus, namun untuk menyenangkan hati Allah”. Bagi Santa Teresia, yang utama bukan dirinya sendiri, supaya menjadi besar dan termasyur, tetapi Allah, supaya menyukakan hati Allah.

Pada kesempatan lain, Santa Teresia berkata, “ Aku mengerti dan mengetahui bahwa ‘Kerajaan Allah ada di dalam hati kita’ (bdk Luk 17:21). Tuhan Yesus tidak membutuhkan baik buku maupun guru untuk membimbing jiwa. Dia adalah Guru dari para guru, yang mengajar tanpa banyak kata-kata”.

“Aku tidak pernah mendengar Dia berkata, namun mengetahui bahwa dalam diriku, dalam segala  perilaku, adalah Yesus yang membimbingku, Dia yang memberi inspirasi apa yang harus aku katakan atau kerjakan”.

Begitu mendalam persatuan Santa Teresia dengan Yesus. Dia membiarkan diri untuk dibimbing Yesus menuju kekudusan. Dia tidak sombong tapi terbuka dan rendah hati akan bimbingan Yesus.

Bersama Santa Teresia, kita semau dipanggil untuk menjadi rendah hari dan belajar dari Yesus Sang Guru Sejati.  Selamat merenung.  (-rmk)

 

Peraturan Pantang dan Puasa Tahun 2016

PDFPrintEmail
01FEBRUARY_SHORT2016
Written by
User Rating: / 1
PoorBest 

Peraturan puasa dan pantang Keuskupan Agung Semarang tahun 2016.

Mengacu Statuta Keuskupan Regio Jawa 1995 pasal 136 peraturan puasa dan pantang ditetapkan sebagai berikut:

  1. Hari Puasa tahun 2016 ini dilangsungkan pada hari Rabu Abu tanggal 10 Februari 2016, dan Jumat Agung tanggal 25 Maret 2016. Hari Pantang dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama masa Prapaska sampai dengan Jumat Agung.
  2. Yang wajib berpuasa ialah semua Orang Katolik yang berumur 18 tahun sampai awal tahun ke-60. Yang wajib berpantang ialah semua Orang Katolik yang berumur genap 14 tahun ke atas.
  3. Puasa dalam arti yuridis, berarti makan kenyang hanya sekali sehari. Pantang dalam arti yuridis, berarti memilih tidak makan daging atau ikan atau garam, atau tidak jajan atau merokok.

Karena peraturan puasa dan pantang cukup ringan, maka kami anjurkan, agar secara pribadi atau bersama-sama, misalnya dalam keluarga, atau seluruh lingkungan/wilayah, atau komunitas pastoran/ biara atau komunitas seminari menetapkan cara puasa dan pantang yang dirasakan lebih sesuai dengan semangat tobat dan matiraga yang ingin dinyatakan sebagai jati diri murid-murid Kristus“Akulah garam dan terang dunia”.

Sebagai sikap pertobatan nyata, beberapa hal dapat dibuat dan sangat kami anjurkan, antara lain:

  1. Dalam keluarga, pertemuan lingkungan atau komunitas, dicari bentuk-bentuk pantang dan puasa yang cocok dengan jenjang usia, sebagai bagian dari pembinaan iman menurut usia: usia dini dan anak, remaja dan orang muda, dewasa dan lansia.
  2. Pada hari Jumat dan hari lain yang ditentukan, setiap keluarga/ komunitas mengganti makanan pokok yang disukai dengan makanan pengganti dari bahan makanan lokal dengan satu macam lauk (sebagaimana sudah muncul sebagai gerakan di beberapa paroki atau komunitas selama peringatan Hari Pangan Sedunia – HPS).
  3. Selama empat puluh hari dalam masa Prapaskah secara pribadi atau dalam keluarga atau komunitas biara/pastoran/seminari memilih tindakan tobat yang lebih berdaya guna untuk mewujudkan tindakan kasih, sekaligus memulai mewujudkan Peradaban Kasih.
  4. Menentukan gerakan pemberberdayaan dan tindakan nyata yang berdampak luas bagi lingkungan alam serta masyarakat sekitar sebagai wujud solidaritas. Hal ini sekaligus menjadi pintu masuk untuk mulai mewujudkan Peradaban Kasih di Indonesia dalam unsur  “kesejahteraan”, misalnya dengan gerakan jimpitan beras untuk kepentingan dana pendidikan dan upaya lain memberi makan bagi saudari-saudara yang membutuhkan.
  5. Hendaknya juga diusahakan agar setiap orang beriman kristiani baik secara pribadi maupun bersama-sama mengusahakan pembaharuan hidup rohani, misalnya dengan rekoleksi, retret, latihan rohani, ibadat jalan salib, pengakuan dosa, meditasi, adorasi dan sebagainya.
  6. Salah satu ungkapan tobat bersama dalam masa Prapaska ialah Aksi Puasa Pembangunan (APP), yang diharapkan mempunyai nilai dan dampak untuk pembaruan pribadi, serta mempunyai nilai dan dampak bagi peningkatan solidaritas pada tingkat paroki, keuskupan dan nasional.

Tema APP tahun 2016 ini adalah:

“Akulah garam dan terang dunia” sebagaimana diuraikan dalam buku-buku yang diterbitkan oleh Panitia APP Keuskupan Agung Semarang.

 

Semarang, 25 Januari 2016,

pada Pesta Bertobatnya St. Paulus , Tahun Luar Biasa Yubileum Kerahiman Allah.

Salam, doa dan Berkah Dalem,

FX. Sukendar Wignyosumarta, Pr

Administrator Diosesan KAS

   

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL