Content View Hits : 144673

 

 

 

 

 

 

We have guests online

SMK Theresiana Ngangsu Kawruh Di Pulau Dewata

06NOVEMBER_SHORT2011
User Rating: / 0
PoorBest 

Semarang (31/10). “Pak musike dangdute disetel, mau karaoke”, celetuk seorang siswa. Gak pakai lama Mas Kapri (bukan sebangsa kacang-kacangan lho :p –red.), sang kondektur pun mengambil koleksi CDnya untuk diputar. “Wah dangdute Malesianan, ndheng”, beberapa siswa menyambutnya dengan sedikit sinis tapi tetap enjoy saja mengikuti irama dan menyanyikannya. Tak lama berselang kembali terdengar celetukan dari belakang “Pak bisa nonton tivi gak to?”, kami hanya tertawa dan bergumam’ “aneh-aneh aja.”

Kisah di atas adalah sepenggal dinamika dalam bus selama perjalanan menuju Pulau Eksotis Bali, . Hal yang sepertinya wajar dan biasa terjadi. Namun justru hal inilah yang cukup menjadi sorotan para pendamping untuk mengajarkan para siswa untuk lebih berbudaya.

Study tour ini dilaksanakan oleh rombongan SMK Theresiana Semarang ini berjumlah 3 bus, dengan 7 guru pedamping. Tidak kurang dari 50 jam waktu siswa dihabiskan dalam perjalanan baik dalam bus maupun kapal. Artinya justru disanalah para pendamping menemukan bagaimana para siswa saling berinteraksi dan berbahasa yang sebenarnya. Rupanya, banyak hal yang bisa didapat dari pengalaman dalam perjalanan. Tidak jarang bapak/ibu pendamping mengingatkan para siswa untuk menjaga etika, sopan santun dalam berbicara maupun bertingkah laku. “Boleh bercanda asal pada tempatnya” (guyon maton –red.), tidak berteriak-teriak di dalam bus maupun kapal dan selalu menjaga kebersihan. Sopir dan Kondektur bukanlah “babu” untuk mengatasi kebosanan para siswa di dalam bus selama perjalanan. Dari pengalaman ini, ternyata banyak pelajaran yang justru bisa dipetik selama dalam perjalanan. “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung” rupanya menjadi pengantar yang tepat sebelum para siswa menginjakkan kaki di Pulau Bali.


Study tour ke Pulau Bali merupakan kegiatan rutin tahunan yang mulai diselenggarakan sejak 2 tahun terakhir. Kegiatan ini dilaksanankan selama 5 hari usai para siswa menunaikan mid-semester pada pertengahan bulan Oktober. Pada dasarnya kegiatan ini sifatnya tidak wajib mengingat study tour memerlukan biaya yang tidak sedikit. Para siswa yang memutuskan untuk tidak mengikuti kegiatan ini diperkenankan untuk mengeksplorasi kekayaan lokal di kota Semarang dan sekitarnya. Mereka bebas untuk memilih mengunjungi situs-situs sejarah/budaya maupun pusat-pusat kewirausahaan lokal.

Utamanya, Study Tour bertujuan untuk menambah wawasan siswa tentang keanekaragaman kebudayaan di Indonesia khususnya di Pulau Dewata, akan tetapi tidak dipungkiri bahwa pada kegiatan ini para siswa terlepas dari kultur kelas yang “spaneng” artinya mereka merdeka (bebas tapi tetap proporsional -red.) untuk mengekspresikan diri. Obyek tujuan study tour pun memungkinkan para siswa untuk belajar dan refresing. Secara umum ada 2 kategori obyek yang menjadi tujuan yaitu situs kebudayaan seperti Tanah Lot, Sangeh, Bali Classic Centre dimana para siswa dapat melihat lebih dekat realitas kehidupan masyarakat Bali tradisional lengkap dengan kekayaan kebudayaannya, Garuda Wisnu Kencana yang merupakan representasi sebuah mahakarya di era modern yang nantinya akan melebihi patung Liberty di New York dan pertunjukan Tari Barong di Batu Bulan yang mengajak para siswa untuk memahami cerita rakyat Bali. Sedangkan obyek wisata yang memberikan kesempatan untuk refreshing diantaranya: Tanjung Benoa, Pantai Kuta, Pasar Tradisional Sukowati, Joger dan Danau Beratan, Bedugul.

Pasca “berlibur” para siswa diharuskan untuk menuangkan hal-hal baru yang mereka peroleh ke dalam karya tulis supaya kegiatan ini pun dapat dievaluasi dari sudut pandang para siswa dan menjadikan program berikutnya menjadi lebih baik.

(lingga wishnu/smk)


Newer news items:

FORM_HEADER


FORM_CAPTCHA
FORM_CAPTCHA_REFRESH