Content View Hits : 139355

 Kampus Kampungkali

 

We have guests online

Peraturan Pantang dan Puasa Tahun 2016

PDFPrintEmail
01FEBRUARY_SHORT2016
Written by
User Rating: / 1
PoorBest 

Peraturan puasa dan pantang Keuskupan Agung Semarang tahun 2016.

Mengacu Statuta Keuskupan Regio Jawa 1995 pasal 136 peraturan puasa dan pantang ditetapkan sebagai berikut:

  1. Hari Puasa tahun 2016 ini dilangsungkan pada hari Rabu Abu tanggal 10 Februari 2016, dan Jumat Agung tanggal 25 Maret 2016. Hari Pantang dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama masa Prapaska sampai dengan Jumat Agung.
  2. Yang wajib berpuasa ialah semua Orang Katolik yang berumur 18 tahun sampai awal tahun ke-60. Yang wajib berpantang ialah semua Orang Katolik yang berumur genap 14 tahun ke atas.
  3. Puasa dalam arti yuridis, berarti makan kenyang hanya sekali sehari. Pantang dalam arti yuridis, berarti memilih tidak makan daging atau ikan atau garam, atau tidak jajan atau merokok.

Karena peraturan puasa dan pantang cukup ringan, maka kami anjurkan, agar secara pribadi atau bersama-sama, misalnya dalam keluarga, atau seluruh lingkungan/wilayah, atau komunitas pastoran/ biara atau komunitas seminari menetapkan cara puasa dan pantang yang dirasakan lebih sesuai dengan semangat tobat dan matiraga yang ingin dinyatakan sebagai jati diri murid-murid Kristus“Akulah garam dan terang dunia”.

Sebagai sikap pertobatan nyata, beberapa hal dapat dibuat dan sangat kami anjurkan, antara lain:

  1. Dalam keluarga, pertemuan lingkungan atau komunitas, dicari bentuk-bentuk pantang dan puasa yang cocok dengan jenjang usia, sebagai bagian dari pembinaan iman menurut usia: usia dini dan anak, remaja dan orang muda, dewasa dan lansia.
  2. Pada hari Jumat dan hari lain yang ditentukan, setiap keluarga/ komunitas mengganti makanan pokok yang disukai dengan makanan pengganti dari bahan makanan lokal dengan satu macam lauk (sebagaimana sudah muncul sebagai gerakan di beberapa paroki atau komunitas selama peringatan Hari Pangan Sedunia – HPS).
  3. Selama empat puluh hari dalam masa Prapaskah secara pribadi atau dalam keluarga atau komunitas biara/pastoran/seminari memilih tindakan tobat yang lebih berdaya guna untuk mewujudkan tindakan kasih, sekaligus memulai mewujudkan Peradaban Kasih.
  4. Menentukan gerakan pemberberdayaan dan tindakan nyata yang berdampak luas bagi lingkungan alam serta masyarakat sekitar sebagai wujud solidaritas. Hal ini sekaligus menjadi pintu masuk untuk mulai mewujudkan Peradaban Kasih di Indonesia dalam unsur  “kesejahteraan”, misalnya dengan gerakan jimpitan beras untuk kepentingan dana pendidikan dan upaya lain memberi makan bagi saudari-saudara yang membutuhkan.
  5. Hendaknya juga diusahakan agar setiap orang beriman kristiani baik secara pribadi maupun bersama-sama mengusahakan pembaharuan hidup rohani, misalnya dengan rekoleksi, retret, latihan rohani, ibadat jalan salib, pengakuan dosa, meditasi, adorasi dan sebagainya.
  6. Salah satu ungkapan tobat bersama dalam masa Prapaska ialah Aksi Puasa Pembangunan (APP), yang diharapkan mempunyai nilai dan dampak untuk pembaruan pribadi, serta mempunyai nilai dan dampak bagi peningkatan solidaritas pada tingkat paroki, keuskupan dan nasional.

Tema APP tahun 2016 ini adalah:

“Akulah garam dan terang dunia” sebagaimana diuraikan dalam buku-buku yang diterbitkan oleh Panitia APP Keuskupan Agung Semarang.

 

Semarang, 25 Januari 2016,

pada Pesta Bertobatnya St. Paulus , Tahun Luar Biasa Yubileum Kerahiman Allah.

Salam, doa dan Berkah Dalem,

FX. Sukendar Wignyosumarta, Pr

Administrator Diosesan KAS

 

Surat Gembala Prapaskah KAS 2016

PDFPrintEmail
01FEBRUARY_SHORT2016
Written by
User Rating: / 2
PoorBest 

“Diutus menjadi garam dan terang bagi masyarakat”

Dibacakan/diterangkan pada hari Sabtu-Minggu,

6-7 Februari 2016

Saudara-saudariku yang terkasih

Memasuki tahun 2016, umat Allah KAS telah memiliki ARDAS VII untuk periode 2016-2020. Dalam semangat ARDAS yang baru ini, kita ingin menapaki peziarahan iman, dengan bergotong royong memperjuangkan Peradaban Kasih melalui hidup bersama yang sejahtera, bermartabat dan beriman, sebagaimana dicita-citakan dalam Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang (RIKAS) 2016-2035. Apa yang kita cita-citakan ini tentulah bagian dari perwujudan iman kita. Kita hidup bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga diutus hadir dan tinggal bersama warga masyarakat lainnya. Secara istimewa pada Tahun Yubileum Kerahiman Allah ini, kita diutus menampilkan Wajah Kerahiman Allah. Dia sungguh baik, peduli dan penuh kasih.

Bacaan-bacaan yang kita dengarkan hari ini menegaskan arti perutusan. Allah memilih dan mengutus beberapa orang memberi­takan kabar baik dan memberi kesaksian akan kebaikan  hati-Nya di tengah kehidupan nyata. Nabi Yesaya memiliki ketakutan dan tidak siap mengemban perutusan hidup di tengah-tengah suasana yang muram. “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, Tuhan semesta alam” (Yes 6:5). Yesaya merasa tidak pantas menjadi seorang utusan, namun akhirnya dengan penuh iman berkata: “Inilah aku, utuslah aku!” (Yes 6:8).

Perasaan yang serupa juga dialami oleh para murid Yesus. Simon dipilih dan dipanggil oleh Yesus untuk ikut serta dalam karya-Nya. Merasa diri lemah dan tak layak mengemban perutusan, Simon menjawab: “Tuhan, pergilah dari padaku sebab aku ini orang berdosa” (Luk 5:8). Akan tetapi Yesus menguatkan hati Simon dengan berkata: “Jangan takut! Mulai sekarang engkau akan menjala manusia” (Luk 5:10).

 

Saudari-saudara yang terkasih

Kadang kita pun merasa tidak pantas untuk mengemban tugas perutusan. Kita disadarkan bahwa justru dalam pengakuan akan kelemahan dan keterbatasan tersebut, kita merasakan kekuatan Allah yang berkarya. Seperti nabi Yesaya yang tinggal di tengah bangsa yang suram, kita juga tinggal di tengah-tengah bangsa yang masih diwarnai oleh kesuraman karena berbagai masalah, antara lain pemaksaaan kehendak dan kekerasan, pengrusakan alam, dan korupsi serta lemahnya penegakan hukum. Dalam situasi seperti itu Yesus menghendaki kita bertolak ke tempat yang dalam (Luk 5:4), agar hidup semakin bermak­na dan berbuah.

Sebagai umat beriman, kita disadarkan akan hakikat kita sebagai  garam dan terang dunia (Mat 5:13-14). Sabda Yesus kepada para murid inilah yang dijadikan tema Aksi Puasa Pembangunan 2016: “Akulah garam dan terang dunia”. Tema ini menyadarkan jati-diri kita sebagai murid Yesus yang siap diutus untuk menaburkan garam kebaikan di tengah masyarakat sehingga kehidupan bersama tidak terasa hambar; untuk membawa terang sehingga memungkinkan setiap orang menemukan kebenaran dan jalan keselamatan. Seperti Simon dan Yesaya, semoga kita, murid Tuhan ini, juga berani menanggapi panggilan Yesus dengan memberikan jawaban: “Inilah aku; utuslah aku menjadi garam dan terang dunia”.

Kita yakin bahwa panggilan dan perutusan kita sebagai garam dan terang dunia akan semakin meman­tap­kan iman kita. Dengan iman yang mantap itu kita memberi kesaksian melalui keteladan dan perbuatan yang berkenan kepada Allah serta berguna bagi masyarakat. Gagasan Romo Albertus Soegijapranata SJ tentang lingkungan, sewaktu masih berkarya di Bintaran pada tahun 1934, mendorong umat katolik untuk hadir dan terlibat dalam kehidupan bermasya­rakat. Romo Soegija mengung­kap­kan: “Alangkah baiknya kalau dalam setiap wilayah pemukiman terdapat ‘seorang pribumi yang bersemangat’ yang dapat mengumpulkan orang-orang katolik, supaya orang katolik tidak ‘berkedudukan’ di luar lingkungan hidup mereka  (berkumpul pada hari Minggu di gedung gereja), melainkan supaya orang katolik tinggal di tengah-tengah masyarakat, sebagai orang beriman menjadi satu dengan hidup sosial”. Pemikiran itulah yang kemudian melahirkan sistem lingkungan dalam tata penggembalaan umat di paroki-paroki dan sangat khas di Jawa. Sistem lingkungan bukan semata-mata sistem administrasi, melainkan sebagai sarana keterlibatan sosial, supaya iman kristiani benar-benar berakar di masyarakat. Melalui karya nyata dalam keterli­batan sosial di tengah masyarakat, kita mengem­ban tugas perutusan sebagai garam dan terang dunia.

Aneka karya karitatif dan pemberdayaan bagi umat dan masyarakat, perlu terus ditingkatkan. Tindakan nyata memba­ngun budaya transparansi dan akuntabilitas sebagai upaya mela­wan tindak korupsi, tentu sangat bermanfaat. Budaya memilah dan meletak­kan sampah pada tempatnya, membuat sumur resapan, dan memanfaatkan air hujan merupakan sarana kepedulian terhadap lingkungan hidup dan kelestariannya. Hal ini merupakan tindakan bijaksana yang perlu terus dikembang­kan. Selain itu, dengan rendah hati, kita mau belajar pada komunitas lain yang mempunyai kepedulian dan bertindak secara nyata demi kebaikan bersama (bonum commune).

UU RI Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, mendorong kita untuk ikut serta membangun dan mengembangkan desa dengan cara kita masing-masing. Pada pasal 18 UU itu ditegaskan bahwa kewenangan Desa meliputi kewenangan di bidang Penyeleng­garaan Pemerintahan Desa, Pelaksanaan Pembangunan Desa, Pem­bi­naan Kemasya­ra­katan Desa, dan Pemberdayaan Masyara­kat Desa. Dengan memahami dan mendalami apa yang tertuang dalam UU itu, serta dalam semangat kerjasama yang sinergis dengan berbagai pihak, Pengurus Dewan Paroki bersama umat Katolik dapat mengambil bagian dalam salah satu bidang tersebut guna mewujudkan diri sebagai garam dan terang di tengah masyarakat.

Saudari-saudara yang terkasih

Saya, bersama Kolegium Konsultor Keuskupan, mengucap­kan terima kasih kepada seluruh umat, komunitas Hidup Bakti, dan paguyuban-paguyuban atas partisipasi­nya mengembang­kan Ge­re­­ja KAS. Kita yakin, usaha kecil dan sederhana yang telah dilakukan menjadi cahaya dalam kehi­dupan yang masih diliputi kesuraman. Kita terus berdoa agar umat Allah KAS, dalam terang Rencana Induk Keuskupan 2016-2035 dan semangat ARDAS KAS 2016-2020, semakin meneguh­­kan peran sebagai garam dan terang dunia. Rama Kardinal Darmajuwana menegaskan: “Tidak ada tenaga yang tidak berguna meski kecil sekalipun, asal mau. Meski kita lemah namun Tuhan memberi kekuatan. Tuhan memilih yang lemah untuk memberi hikmah kepada yang kuat”.

Mari kita saling mendoakan dan meneguhkan. Kita berdoa dan memberi perhatian bagi para ‘Adi Yuswa’ dan yang sedang sakit di manapun berada, agar rahmat Tuhan menguatkan mereka; bagi yang difabel, agar diberi anugerah penghibur­an dan pertolongan; bagi keluarga-keluarga, agar senantiasa mengupayakan keru­kun­an, damai dan sejahtera. Pintu Kerahiman Allah dan belaskasih-Nya diwujudkan dan dinyatakan dalam cara bertin­dak dengan saling memberi perha­­tian dan dukungan.

Sebagai umat Allah KAS, mari kita bergerak bersama agar sebagai garam tetap mampu memberikan rasa asin, meskipun harus melarutkan diri dan tidak kelihatan dalam kehidupan bersama. Dan sebagai terang mampu menjadi cahaya di tengah kegelapan.

Semarang, 25 Januari 2016,

pada Pesta Bertobatnya St. Paulus

Tahun Luar Biasa Yubileum Kerahiman Allah.

Salam, doa dan berkah Dalem,

FX. Sukendar Wignyosumarta, Pr

Administrator Diosesan KAS.

 

Arah Dasar Keuskupan Agung Semarang 2016-2020

PDFPrintEmail
28JANUARY_SHORT2016
Written by

MEMBANGUN GEREJA YANG INKLUSIF, INOVATIF DAN TRANSFORMATIF DEMI TERWUJUDNYA PERADABAN KASIH DI INDONESIA

Umat Allah Keuskupan Agung Semarang, sebagai persekutuan paguyuban-paguyuban murid-murid Yesus Kristus dalam bimbingan Roh Kudus bertekad dan bergotong royong memperjuangkan hidup bersama yang sejahtera, bermartabat, beriman, demi terwujudnya peradaban kasih, tanda kehadiran Kerajaan Allah.

Bersama masyarakat Indonesia yang sedang menghidupi kembali nilai-nilai Pancasila di era kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, umat Allah Keuskupan Agung Semarang mewujudkan diri sebagai Gereja yang, merengkuh dan bekerjasama dengan semua orang (inklusif), terus menerus membarui diri (inovatif) dan berdaya ubah (transformatif).

Cita-cita tersebut diwujudkan dengan: pengembangan iman umat yang cerdas, tangguh, misioner dan dialogis secara berjenjang dan berkelanjutan; pengembangan keluarga, lingkungan dan kelompok-kelompok umat agar lebih berperan dalam masyarakat; peningkatan pelayanan karitatif dan pemberdayaan kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel agar semakin sejahtera dan bermartabat; serta peningkatan peran dan keterlibatan kaum awam dalam gerakan sosial, budaya, ekonomi, politik dan pelestarian lingkungan dengan semangat pembelajaran, kejujuran, dan kerjasama. Upaya tersebut didukung dengan transparansi dan akuntabilitas dalam tata kelola paroki dan lembaga-lembaga karya serta peningkatan spiritualitas dan profesionalitas para pelayan pastoral.

Umat Allah Keuskupan Agung Semarang dengan tulus, setia, dan rendah hati bertekad bulat melaksanakan upaya tersebut, serta mempercayakan diri pada penyelenggaraan ilahi seturut teladan Maria, hamba Allah dan bunda Gereja.

Allah yang memulai pekerjaan baik di antara kita akan menyelesaikannya (bdk. Flp 1:6)

   

Surat Gembala HAK 2016

PDFPrintEmail
08JANUARY_SHORT2016
Written by
User Rating: / 2
PoorBest 

Menghadirkan Gereja Yang Inklusif, Inovatif dan Transformatif Melalui Dialog Ekumenis dan Interreligius”

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Seraya mengenang mendiang Mgr. Johannes Pujasumarta, Bapak Uskup Agung kita yang berpulang ke rumah Bapa, 10 November 2015 yang lalu, kita kembali memasuki Pekan Doa Sedunia (PDS) untuk Kesatuan Umat Kristiani yang setiap tahun kita laksanakan pada tanggal 18-25 Januari. Kita berdoa agar Keuskupan Agung Semarang dianugerahi Uskup yang baru yang akan menggembalakan kita semua.

Tema Pekan Doa Sedunia kali ini diolah berdasarkan kutipan dari surat pertama St. Petrus “Panggilan untuk Mewartakan Perbuatan-Perbuatan Tuhan yang Besar” (bdk. 1 Petrus 2:9). Dengan tema itu, kita diajak untuk mewartakan bahwa persatuan dan persaudaraan para murid Kristus adalah karya agung Tuhan sendiri. Yesus sendiri berdoa agar para murid-Nya bersatu, sama seperti Yesus Kristus bersatu dengan Bapa, sehingga dunia percaya bahwa Kristus adalah utusan Bapa (lih. Yoh 17:20-23).

Tema Pekan Doa Sedunia tahun 2016 dirumuskan dan dipersiapkan dalam pertemuan di Riga, Latvia. Riga adalah ibu kota Latvia, sebuah negara bekas Uni Soviet yang berada di Laut Baltik, antara Lithuania dan Estonia. Sebagai negara bekas komunisme, umat dan masyarakatnya masih mengalami trauma-trauma penderitaan akibat perpecahan. Syukur kepada Allah, dalam situasi yang pedih dan pahit itu, umat Kristiani dari berbagai denominasi di sana dapat hidup rukun bersatu. Mereka memiliki kebiasaan berdoa bersama dalam suasana penuh persahabatan.

Berangkat dari pengalaman tersebut, selama Pekan Doa Sedunia, kita diajak mewartakan perbuatan-perbuatan besar yang dikerjakan Tuhan dalam rangka persatuan dan persaudaraan sejati di antara kita. Disadari dengan rendah hati dan jujur bahwa perpecahan di antara umat Kristiani merupakan halangan bagi pewartaan sukacita Injil. Dunia tidak bisa percaya bahwa kita adalah murid-murid Kristus bila kita tidak bisa saling mengasihi dan terjebak dalam perpecahan dan pertikaian.

Saudari-saudara yang terkasih,

Kita semua, Umat Allah Keuskupan Agung Semarang bersyukur, pada tahun 2016 ini memiliki Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang (RIKAS) yang akan berlaku hingga tahun 2035. RIKAS 2016-2035 mengajak kita semua berusaha “Mewujudkan Peradaban Kasih dalam Masyarakat Indonesia yang Sejahtera, Bermartabat dan Beriman”. Dalam lima tahun pertama sebagai Arah Dasar ke-7 tahun 2016-2020, kita hayati dan wujudkan jatidiri “Gereja yang Inklusif, Inovatif dan Transformatif”. Kita dipanggil menghayati jatidiri sebagai warga Gereja yang ngrengkuh – dan bekerjasama dengan semua orang, terus menerus membarui diri dan berdaya ubah.

Kita juga bersyukur sebab dalam tujuh tahun terakhir,  telah memberi perhatian untuk Pekan Doa Sedunia sebagai gerakan bersama. Kevikepan-Kevikepan di Keuskupan Agung Semarang telah memberi perhatian dengan menyelenggarakan Ibadat Ekumene bersama dalam rangka Pekan Doa Sedunia, selain Ibadat Ekumene dalam rangka Natal dan Paskah. Paroki-paroki dan komunitas-komunitas, mendaraskan doa untuk kesatuan umat Kristiani dan merenungkan tema-tema harian selama satu pekan sebagaimana dipersiapkan oleh Komisi HAK KAS. Syukur kepada Allah, sejak tahun 2010 diterbitkan dan dibagikan brosur Pekan Doa Sedunia ke paroki-paroki dan komunitas-komunitas se-Keuskupan sebagai bahan doa dan renungan harian selama Pekan Doa Sedunia berlangsung. Sejak tahun 2011, Bapa Uskup telah menetapkan salah satu hari Minggu dalam Pekan Doa Sedunia sebagai Hari Minggu HAK KAS dan seiring dengan itu disampaikan kepada kita Surat Gembala Hari Minggu HAK. Hal-hal ini selayaknya disyukuri dan diwartakan sebagai karya-karya agung Tuhan dalam rangka menghadirkan Gereja yang semakin signifikan dan relevan.

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Sesuai dengan ARDAS KAS 2016-2020, mari kita hayati Pekan Doa Sedunia dan Hari Minggu Hubungan Antaragama dan Kepercayaan sebagai upaya menghadirkan Gereja yang inklusif, inovatif dan transformatif. Kita diundang menanggapi fokus pastoral tahun 2016, agar semakin banyak imam, biarawati-biarawan, Dewan Paroki dan pengurus lingkungan terlibat dalam mewujudkan Gereja sebagai komunitas perjumpaan lintasiman dengan berbasis Lingkungan dan menghadirkan Wajah Kerahiman Allah dalam belarasa nyata. Kiranya baik agar ke depan, kegiatan-kegiatan yang bersifat ekumenis dan interreligius kian banyak diwujudkan sebagai program kerja di paroki-paroki serta komunitas. Misalnya, dalam rangka HUT atau Pesta Nama Paroki, atau peringatan hari nasional, selain perayaan liturgis, juga diselenggarakan perayaan yang bersifat kemasyarakatan-kultural, umpamanya dengan mengadakan selamatan atau kendurèn yang melibatkan masyarakat secara lintas agama, pentas budaya, serta semarak kegiatan pemberdayaan yang melibatkan dan bekerjasama dengan warga serta pemerintah daerah / kota hingga desa setempat untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Bersama Paus Fransiskus dalam rangka Tahun Jubileum Kerahiman Allah dalam Bulla “Misericordiae Vultus” (MV, 11 April 2015), kita percaya bahwa “kerahiman Allah ini akan menumbuhkan sebuah perjumpaan dengan agama-agama lain dan dengan tradisi-tradisi agama mulia lainnya; semoga ini membuka kita untuk lebih kuat berdialog sehingga kita bisa saling mengenal dan memahami dengan lebih baik; semoga ini menghilangkan segala bentuk ketertutupan pikiran dan ketidakhormatan, dan mengusir setiap bentuk kekerasan dan diskriminasi” (MV 23).

Saudari-saudaraku yang terkasih,

Salah satu tema harian Pekan Doa Sedunia 2016 mengajak kita membangun kehidupan beriman yang bermartabat melalui kata-kata kita sebagai wujud penghayatan martabat imami kita (hari ke-4). Kata-kata kita adalah cermin martabat pribadi sebagai murid-murid Kristus. Paus Fransiskus menulis, “Berapa banyak kata-kata membahayakan diucapkan ketika orang termotivasi oleh rasa cemburu dan iri hati. Menjelekkan orang lain menempatkan mereka dalam terang yang buruk merusak reputasi orang lain dan menjadikan mereka mangsa keinginan bergosip” (MV 14). Kita dipanggil menggunakan kata-kata yang kita ucapkan untuk membangun daripada menghancurkan, merukunkan daripada memecahbelah, mengampuni daripada menghakimi.

Terima kasih kepada saudari-saudara, kaum muda-Remaja, biarawati-biarawan, komunitas dan aneka paguyuban, serta para imam yang telah memanfaatkan bahan renungan dan doa yang ditawarkan dalam rangka semakin mewujudkan doa Yesus agar kita semua bersatu dan menghadirkan Gereja yang menyapa. Segala upaya itu menjadi jawaban bahwa “bangsa-bangsa akan melihat kebenaranmu, dan semua raja akan melihat kemuliaanmu” (Yes 62: 1-5 bacaan 1) Dengan demikian persatuan umat Kristiani semakin nyata karena “ada rupa-rupa karunia tetapi hanya ada satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi hanya satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu, yang mengerjakan semuanya dalam semua orang” (1 Kor 12:4-11, bacaan II). Kita terus menerus perlu mengisi penuh tempayan-tempayan air kita, agar Tuhan mencukupkan keperluan bersama dalam semangat sosial dan belarasa, hingga kita melalukan apa yang Tuhan Yesus katakan sebagaimana perintah Bunda Maria kepada para pelayan, seperti inspirasi bacaan Injil hari ini (Yoh. 2:1-11).

 

Salam, doa dan Berkah Dalem,

Semarang, HR Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda,

Pembukaan Tahun Jubileum Kerahiman Allah dan Promulgasi RIKAS,

8 Desember 2015

FX. Sukendar Wignyosumarta, Pr

Administrator Diosesan KAS

 

Panduan Refleksi Sekolah Theresiana

PDFPrintEmail
08JANUARY_SHORT2016
Written by

PANDUAN REFLEKSI GURU, DOSEN, KARYAWAN, MAHASISWA DAN PESERTA DIDIK

SEKOLAH THERESIANA YAYASAN BERNARDUS


PENGANTAR

Hidup ini diwarnai dengan berbagai pengalaman. Suka dan duka merupakan hal yang wajar. Segala perasaan muncul dan berlalu seakan seperti roda yang selalu berputar. Hidup bergulir begitu cepat dan tanpa kita sadari kita telah melewati serangkaian pengalaman.

Namun demikian, apakah arti dari hidup ini jika akhirnya kita sering melupakan atau bahkan membuang pengalaman-pengalaman yang ada. Kegembiraan menjadi pengalaman yang selalu menjadi kenangan, sedangkan duka seakan menjadi pengalaman yang ingin segera dilupakan. Tidak sepantasnya kita membuang pengalaman begitu saja, sebab setiap pengalaman selalu mempunyai makna. Sekarang tinggal bagaimana kita mau berhenti sejenak dari segala aktivitas dan memaknai segala pengalaman yang ada.

 

PENGERTIAN

Refleksi merupakan salah satu sarana untuk memaknai pengalaman hidup dan juga sarana untuk semakin mengenali diri sendiri. Kata ‘Refleksi’ berasal dari kata bahasa Latin yaitu ‘reflectere’ yang berarti ‘melengkung ke belakang’. Dari arti kata tersebut, proses berefleksi mengajak kita untuk mau menengok kembali setiap pengalaman yang telah kita alami. Kita mau belajar untuk menghargai dan memaknai segala pengalaman yang ada, entah suka maupun duka.

Perlu diperhatikan, bahwa memaknai bukanlah akhir dari proses berefleksi. Ada satu hal yang semestinya menjadi muara atas segala proses refleksi. Hal itu adalah aksi. Aksi di sini mempunyai makna sebagai bentuk pertobatan atau niat untuk semakin memperbaiki diri. Segala pengalaman dimaknai supaya akhirnya kita bisa semakin membentuk diri menjadi pribadi yang utuh.

 

TUJUAN

  • Meningkatkan proses pengenalan diri dan pemahaman akan tindakan yang baik dan yang buruk.
  • Menumbuhkan karakter diri yang reflektif sehingga selalu mau belajar dari pengalaman.
  • Mengembangkan diri sesuai dengan core values Sekolah-sekolah Theresiana: Sukacita, Disiplin, Jujur, dan Peduli.

 

PELAKSANA

Seluruh guru, karyawan, peserta didik/mahasiswa Sekolah/Perguruan Tinggi Theresiana.

 

WAKTU PELAKSANAAN

Pelaksanaan refleksi dilakukan seminggu sekali pada hari terakhir kegiatan belajar mengajar minggu itu. Kurang lebih penulisan refleksi membutuhkan waktu selama 30 menit.

 

TUNTUNAN REFLEKSI

Menulis refleksi bukanlah sekedar menuliskan agenda kegiatan mingguan. Lebih dari itu, refleksi diharapkan mampu mengungkapkan perasaan atau isi hati yang dirasakan oleh setiap orang yang menuliskan. Maka perlu adanya kejujuran dan keterbukaan hati akan perasaan atau pengalaman yang dialami.

Untuk bisa mengingat pengalaman dan mengenali perasaan yang dialami, maka sebelum berefleksi perlu adanya suatu persiapan. Dalam persiapan inilah kita diajak untuk menata hati dan pikiran. Kita mencoba mempersiapkan diri untuk melihat dan berkomunikasi dengan diri kita sendiri.

Persiapan ini bisa kita lakukan dengan menciptakan suasana hening. Dalam keheningan inilah kita diajak untuk menanggalkan sejenak segala beban pikiran yang ada dan menjadikan tubuh kita rileks.

Setelah dirasa cukup dalam persiapan, maka selanjutnya bisa dimulailah dengan penulisan refleksi. Ada beberapa tahap yang sekiranya bisa membantu dalam pembuatan alur refleksi, antara lain sebagai berikut:

 

Pengalaman

Tentukan core values yang akan direfleksikan: sukacita, disiplin, jujur, atau peduli. Selanjutnya coba ingatlah pengalaman-pengalaman yang mewarnai hidup Anda selama seminggu ke belakang, secara khusus yang berkaitan dengan core values. Pengalaman yang diambil bisa pengalaman yang positif maupun yang negatif. (Pengalaman yang positif: kepedulian. Pengalaman yang negatif: ketidakpedulian). Pengalaman bisa dari sekolah, rumah, maupun lingkungan sekitar.

Pilihlah satu atau dua pengalaman yang sekiranya paling menarik dan paling dominan mewarnai hidup Anda. Lalu tuliskanlah pengalaman itu dalam beberapa paragraf awal.

Analisis

Coba temukan sebab apa yang melatarbelakangi atau menjadikan pengalaman itu hadir dalam diri Anda. Suatu kejadian bisa disebabkan oleh karena diri sendiri, tetapi juga bisa disebabkan oleh orang lain.

Temukan dan tuliskanlah pula akibat/reaksi yang muncul setelah kita berhadapan dengan pengalaman tersebut. Reaksi yang muncul bisa berupa perasaan atau tindakan. Kepada siapakah reaksi itu berdampak dan apa dampaknya.

Refleksi

Silakan melihat pengalaman secara lebih luas/obyektif. Tanggalkanlah rasa emosi pribadi, pandangan miring atau negatif dan mencoba untuk memahami situasi.

Cobalah untuk menimbang-nimbang pengalaman yang telah Anda pilih. Cobalah untuk menimbang-nimbang apakah sikap atau pilihan Anda sudah benar atau belum. Jika sikap Anda benar maka kembangkanlah, tetapi jika sikap Anda buruk maka evaluasilah, bertobatlah dan perbarui sikap Anda.

Aksi

Beranjak dari pengalaman dan permenungan di atas, buatlah bentuk aksi konkret ke depan. Aksi di sini bisa sebagai langkah pengembangan maupun juka sebagai bentuk pembaruan diri (pertobatan). Sebagai langkah pengembangan ketika pengalaman dan sikap Anda sudah benar, sedangkan pertobatan harus dilakukan ketika pengalaman dan sikap Anda masih buruk.

Cobalah menjabarkan aksi Anda secara jelas (apa bentuknya, bagaimana caranya, kapan, dll). Aksi tidak harus yang muluk-muluk, tetapi cukup dengan hal yang sederhana asal konsisten dijalankan.

Setelah selesai menuliskan refleksi, silakan ditutup dengan doa. Bersyukurlah bahwa Anda boleh melihat dan memaknai karya Tuhan dalam pengalaman yang Anda tuliskan tadi. Mohonlah berkat Tuhan supaya Dia berkenan membimbing dan memberkati setiap perjalanan hidup Anda selanjutnya. Mohonlah pula rahmat penyertaan-Nya agar Anda bisa mewujudnyatakan setiap niat yang telah Anda buat tadi.

 

PENUTUP

Demikianlah paparan panduan refleksi. Besar harapan lewat panduan ini, setiap guru, karyawan, peserta didik maupun mahasiswa bisa terbantu untuk masuk dalam proses refleksi. Mohon maaf atas segala kekurangan yang ada. Selebihnya, kami ucapkan banyak terima kasih.

   

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL