Content View Hits : 144644

 

 

 

 

 

 

We have guests online

Kemendesakan Reksa Pastoral Di Lembaga Pendidikan

PDFPrintEmail
06NOVEMBER_SHORT2011
Written by
User Rating: / 0
PoorBest 

Oleh : Ag. Tri Hartono Pr.

Berikut ini akan kami coba sampaikan :

1. Apa itu Reksa Pastoral Pendidikan ?

2. Tujuan Reksa Pastoral Pendidikan.

3. Kemendesakan Reksa Pastoral Pendidikan.di lembaga pendidikan non katolik.

4. Hal-hal Praktis yang Perlu Diperhatikan.

1. Apa itu Reksa Pastoral Pendidikan ?

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa reksa pastoral ialah : “penghadiran Gereja dengan perhatian dan bantuan khusus” atau segala kegiatan pelayanan kegembalaan/pastoral pendidikan yang diberikan kepada umat/kelompok umat (insan pendidikan) agar mereka menjadi semakin kristiani dan mampu menciptakan tatanan hidup yang dijiwai oleh nilai-nilai kristiani.

a. Ajaran Gereja tentang reksa pastoral bagi IPK. (Insan Pendidikan Katolik di Lembaga Pendidikan non Katolik).

GE (Grvissimum Educationis) art. 2:” Semua orang kriten (katolik) berhak atas pendidikan Kristen (katolik). Oleh karena itu para gembala jiwa harus mengatur segala sesuatu agar semua orang beriman menikmati pendidikan Kristen (katolik), terutama angkatann muda harapan Gereja”.

Dalam G.E. art 7 dikatakan : Gereja harus hadir dengan perhatian dan bantuan khusus bagi banyak orang yang dididik di sekolah-sekolah tidak Katolik; baik melalui kesaksian hidup orang-orang yang mengajar dan membimbing peserta didik itu, maupun melalui karya kerasulan sesama murid, terutama melalui pelayanan para imam dan awam, yang memberikan ajaran keselamatan, sesuai dengan tuntutan usia dan keadaan, serta menyumbangkan bantuan rohani melalui kegiatan-kegiatan yang serasi dengan keadaan waktu dan tempat. Jadi kehadiran “Gereja“ dengan perhatian dan bantuan khusus tersebut merupakan “keharusan atau kewajiban” Gereja.

Siapa Gereja yang harus hadir dengan perhatian dan bantuan khusus ? Representasi Gereja adalah Uskup dengan para pembantunya baik imam maupun awam. Bila mau dipertajam bisa dikatakan bahwa melalui Komisi Pendidikan, Gereja harus hadir dengan perhatian dan bantuan khusus bagi insan pendidikan katolik di lembaga pendidikan non katolik.

Dalam GE art.7, Gereja harus hadir melalui tiga jalur:

1. Kesaksian hidup para guru dan karyawan (bdk. Ajaran Gereja ttg Sekolah Katolik art. 43). Agar para guru dan karyawan bisa memberikan kesaksian hidup, perlu pendapingan atau reksa pastoral.

2. Kerasulann sesama murid (IPK = Ikatan Pelajar Katolik). Pengaruh teman amatlah penting. Maka jalur kerasulan sesama murid amat perlu diperhatikan.

3. Terutama melalui pelayanan para imam (pelayanan sacramental) dan awam (guru agama), yang memberikan ajaran keselamatan.

b. Kitab Suci.

Paham reksa pastoral pendidikan tidak bisa dilepaskan dari paham reksa pastoral pada umumnya, yang bersumber pada Yesus Kristus sebagai Gembala Utama sebagaimana terdapat dalam kitab suci.

Ada empat teks Kitab Suci (di antara teks-teks yang lain) yang bisa digunakan sebagai rujukan reksa pastoral.

1. Yohanes 10 : 11 – 16. Gembala yang baik.

2. 1 Petrus 5 : 2 – 3. Sikap seorang gembala.

3. Yoh 21 : 15 – 17. Syarat seorang gembala sejati.

4. Lukas 15: 1- 7. Gembala mengutamakan domba yang hilang

Intisari dari teks-teks tersebut ialah :

1. Yoh 10 : 11 – 16

- Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya, dilawankan dengan “orang upahan” yang lebih memikirkan upah daripada domba-dombanya, maka akan lari bila ada sesuatu yang tidak menguntungkan / bahaya ( ayat 11 – 13 ).

- Gembala yang baik mengenal domba-dombanya dan dikenal oleh domba-dombanya (ada relasi personal). Bahkan lebih dalam lagi relasi personal tersebut seperti relasi Allah Bapa dan Allah Putera ( ayat 14-15 ).

- Gembala yang baik bersikap inklusif, (bukan eksklusif) : “ada lagi padaKu domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini, domba-domba itu harus kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suaraKu dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala” ( ayat 16 ).

2. 1 Petrus 5 : 2 – 3

Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu,

- Jangan dengan paksa (negatif) tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah (positif).

- Jangan karena mau mencari keuntungan (negatif) tetapi dengan pengabdian diri (positif).

- Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu (negatif), tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu (positif).

3. Yoh 21 : 15 – 17

1) Relasi dengan Yesus

Sebelum Yesus memberikan tugas kegembalaan kepada Simon Petrus, Yesus bertanya : “Apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini ?” pertanyaan ini diulang sampai tiga kali (ayat 15, 16. 17), artinya amat penting dan mendasar. Dengan kata lain orang yang tidak mencintai Yesus tidak mungkin melaksanakan reksa pastoral.

2) Relasi dengan domba-domba

Setelah Simon Petrus mengucapkan “ikrar” mencintai Yesus labih daripada yang lain, Yesus memberikan tugas kegembalaan dengan menyatakan : “Gembalakanlah domba-dombaKu” juga juga sampai tiga kali. Artinya, tugas reksa pastoral itu amat penting dan mendesak untuk dilaksanakan dan dalam melaksanakan tugas reksa pastoral, amat dibutuhkan “relasi personal” dengan orang yang dilayani.

Dalam teks bahasa Indonesia : tiga kali perintah kegembalaan itu sama saja. “Gembalakanlah domba-dombaKu” namun dalam teks Inggris (Jerusalem Bible) tiga perintah kegembalaan tersebut berbeda ; yang pertama : “ Feed my lambs” (ayat 15), yang kedua : “Look after my sheep” (ayat 16), yang ketiga : “Feed my sheep” (ayat 17), artinya reksa pastoral harus personal, sesuai dengan situasi, kondisi dan kebutuhan masing-masing orang yang kita layani. (bdk GE art. 7 “sesuai dengan tuntutan usia dan keadaan”).

4. Lukas 15: 1-7. Perumpamaan tentang domba yang hilang.

Ada domba seratus hilang satu, yang 99 ditingal untuk mencari yang satu sampai ketemu. Di sini kita diingatkan akan prinsip “preferential option for the poor”. Ada perbedaan mendasar antara “roh bisnis” dan “roh pastoral”. Roh bisnis akan berkata: “dari pada meninggalkan yang 99 untuk mencari yang satu, yang 99 bisa kacau dan yang satu belum tentu ketemu, lebih baik memperhatikan yang 99 dan mengorbankan yang satu”. Dalam manajemen pendidikan memang perlu memperhatikan sisi bisnis agar lembaga bisa berjalan baik, tetapi tidak boleh melupakan roh pastoral. Inilah yang membedakan pendidikan katolik dari yang bukan. ( bdk Lukas 4: 18. “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik untuk orang-orang miskin.”)

Dengan demikian jelaslah bahwa cinta kasih kepada Yesus dan cinta kasih kepada kawanan domba tidak bisa dipisahkan dan diabaikan salah satunya. Dalam anjuran Apostolik Yohanes Paulus II : “Pastores Dabo Vobis” (PDV) (Gembala-gembala akan kuangkat bagimu) 21 Maret 1992, mengembangkan gagasan mengenai “Cinta kasih pastoral” (PDV art 23). Walaupun dalam PDV cinta kasih pastoral lebih ditujukan bagi para Imam, tetapi sebetulnya juga berlaku bagi semua orang yang terlibat dalam reksa pastoral. Antara lain dikatakan :

“ Prinsip batin, daya-kekuatan yang menjiwai dan menuntun hidup rohani imam dalam keserupaannya dengan Kristus Sang Kepala dan Gembala, ialah cintakasih pastoral, sebagai partisipasi dalam cintakasih pastoral Yesus Kristus sendiri, suatu kurnia yang dalam kemurahan semata-mata dianugerahkan oleh Roh Kudus, sekaligus suatu tugas dan panggilan, yang mengundang tanggapan yang bebas disertai kesanggupan penuh dari pihak imam. ”

Makna pokok cinta kasih pastoral adalah :

Penyerahan diri sepenuhnya kepada Gereja, mengikuti teladan Kristus. Dengan keutamaan cinta kasih pastoral kita mencontoh Kristus dalam penyerahan diri serta pengabdian-Nya. Bukan apa yang kita buat begitu saja, melainkan penyerahan dirilah, yang menampakkan kasih Kristus terhadap kawanan-Nya. Cinta kasih pastoral menentukan cara kita berpikir dan bertindak, cara kita berhubungan dengan sesama. Cinta kasih itu mengajukan tuntutan-tuntutan khas kepada kita.

Agar cinta kasih pastoral sebagai partisipasi dalam cinta kasih pastoral Yesus Kristus tetap hidup dan berkembang, perlu mendapat sumber kekuatan dari ekaristi. Disini tersirat bahwa para petugas pastoral, termasuk petugas reksa pastoral pendidikan, tidak akan dapat melaksanakan tugas dengan baik, bila tidak menjalin relasi dengan Tuhan Yesus Kristus dalam ekaristi dan sakramen-sakramen lainnya serta Sabda Allah. Maka penting diadakannya rekoleksi atau retret dan kegiatan kerohanian lainnya bagi para insan pendidikan katolik.

2. Apa Tujuan Reksa Pastoral Pendidikan ?

Tujuan reksa pastoral pendidikan menurut GE Pendahuluan ialah agar semua orang diperbaharui dalam Yesus Kristus. Kalau diurai lebih lanjut agar umat menjadi semakin kristiani dan mampu menciptakan tatanan hidup yang dijiwai oleh nilai-nilai kristiani.

Kalau diperhatikan, ada 2 tujuan :

1. Agar semua orang kristiani menjadi semakin kristiani. Supaya orang bisa menjadi semakin kristiani melalui pendidikan Katolik (pendidikan sebagai mediasi).

2. Tatanan hidup yang dijiwai oleh nilai-nilai kristiani. Yang dimaksud tatanan hidup yang dijiwai oleh nilai-nilai kristiani adalah kehidupan bersama yang semakin bermakna, bersaudara, adil dan bermartabat.

Dua hal tersebut di atas harus saling melengkapi, sebab walaupun orangnya itu baik (kristiani) tetapi kalau tatanan hidupnya tidak dijiwai oleh nilai-nilai kristiani maka tidak akan terwujud kehidupan yang semakin bermakna, bersaudara, adil dan bermartabat. Contoh: di Negara kita ini petani yang rajin, kerja keras dan jujur tetap hidup sulit, sementara para pejabat dan wakil rakyat serta para koruptor bisa hidup enak, tanpa perlu kerja keras.Jelaslah abhwwa diperlukan tatanan hidup (system) yang baik agar bisa adil dan bermartabat. Harus diakui bahwa sebagai kelompok minoritas tidaklah gampang menciptakan tatanan hidup bersama dalam masyarakat plural yang dijiwai nilai-nilai kristiani. Jangankan di masyarakat umum, di lembaga pendidikan katolik pun amat sulit menciptakan tatanan hidup yang dijiwai oleh nilai-nilai kristiani.

Sebaliknya walaupun ada tatanan atau aturan yang baik tetapi kalau sikap/mentalitas warganya itu tidak baik maka akan selalu ada celah atau peluang untuk melakukan hal-hal yang melanggar tatanan yang baik tersebut.

Bisa juga dikatakan bahwa tujuan reksa pastoral pendidikan agar tercipta pendidikan yang kristiani. Apa itu pendidikan kristiani ?

Mgr. Ig Suharyo dalam tulisan mengenai pendidikan Katolik mengatakan bahwa pendidikan merupakan salah satu mediasi atau sarana untuk membangun kehidupan bersama yang dijiwai oleh nilai-nilai kristiani (inspirasi iman).

Hal itu sejalan dengan ajaran Gereja tentang pendidikan (GE) yang intinya agar ada integrasi antara iman, ilmu dan kehidupan. Pendidikan Katolik bukan sekedar pendidikan tetapi pendidikan yang diresapi nilai-nilai kristiani dan membuahkan perubahan sosial yang dijiwai nilai-nilai kristiani baik pada diri orang sebagai warga masyarakat maupun tatanan hidup bersama di dalam masyarakat.

Hal tersebut diurai secara lebih jelas pada GE art. 2. Intisari dari GE art. 2 : semua orang Kristen melalui pembaptisan (kelahiran kembali dari air dan Roh Kudus) telah menjadi putra-putri Allah. Oleh karena itu, mereka berhak atas pendidikan Kristen. Pendidikan Kristen bukan hanya mengusahakan (1) kematangan pribadi manusia melainkan bertujuan agar orang kristiani semakin (2) memahami misteri penyelamatan, semakin (3) menyadari anugerah-anugerah iman yang telah diperoleh dan semakin bisa (4) menyembah Allah Bapa dalam Roh dan Kebenaran (beribadah secara benar dan baik), semakin bisa (5) mengatur kehidupan manusia sendiri sebagai manusia baru.

Selain itu mereka juga semakin mampu (6) memberi kesaksian tentang harapan yang ada dalam dirinya dan (7) membangun tatanan hidup bersama yang dijiwai oleh nilai-nilai kristiani demi kepentingan bersama. Dengan kata lain mereka semakin bisa menjadi garam dan ragi bagi masyarakat .

Untuk tujuan tersebut konsili suci mengingatkan para gembala jiwa akan tugasnya yang maha berat mengatur segala sesuatu agar semua orang beriman menikmati pendidikan Kristen terutama angkatan muda yang adalah harapan gereja.

3. Kemendesakan Reksa Pastoral bagi IIPK

“Hati-Nya tergerak oleh belas kasihan melihat sekian banyak orang, karena mereka itu lelah dan terlantar, ibarat domba-domba tanpa gembala” ( Mat 9 : 36 ).

Selama ini Komdik KWI garis miring MNPK. Artinya Komdik KWI hanya memperhatikan insan pendidikan katolik di lembaga pendidikan katolik, yang relative sudah terurus dengan lumayan baik. Padahal ada banyak siswa, guru dan karyawan katolik yang berada di lembaga pendidikan non katolik. Mereka itu ibarat domba tanpa gembala, padahal mereka mempunyai hak yang sama atas reksa pastoral. Semenjak Sidang KWI 2003 (reposisi Komdik KWI), Komdik KWI tidak hanya mengurus MNPK tetapi semua insan pendidikan katolik. Bahkan menurut Lukas 15:1-7 “preferential option for the poor”, Komdik harus mengutamakan mereka yang belum terperhatikan.

Dalam kenyataan hidup sehari-hari dan dari laporan yang saya terima dari guru-guru Katolik yang bekerja di lembaga pendidikan non Katolik, nampak bahwa anak-anak katolik maupun guru dan karyawan katolik yang berada di sekolah non Katolik masih belum mendapatkan perhatian atau “Reksa Pastoral” yang memadai. Mereka haus akan sapaaan, pendampingan dan pelayanan pastoral. Maka sangat tepat kutipan Injil Matius (Mat 9 : 36) di atas.

Terhadap kenyataan seperti itu Yesus bersabda kepada murid-muridNya : “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya ia mengirim pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (Mat 9 : 36-37).

Ada tiga alasan kemendesakan reksa pstoral IIPK:

1. Hak setiap oang Kristen (katolik) untuk mendapatkan pendidiikan kristiani. (GE art. 2)

2. Gereja harus hadir dengan perhatian dan bantuan khusus bagi IIPK (GE. Art.7).

3. Di banyak tempat reksa pastoral IIPK belum terlaksana dengan baik.

Dalam kaitannya dengan hal itu maka Bapak Kardinal Justinus Darmayuwono (alm.) secara khusus menugaskan beberapa frater Serikat Jesus untuk melaksanakan “Reksa Pastoral” bagi guru-guru inpres di KAS waktu itu. Ketika tidak ada lagi frater-frater SJ yang bertugas reksa pastoral bagi guru-guru inpres, tugas tersebut dikembalikan kepada Gereja setempat, dalam hal ini yaitu komisi pendidikan sebagai kepanjangan tangan Gereja di bidang pendidikan. Maka amat bisa dipahami kalau dahulu Komdik KAS memprioritaskan reksa pastoral bagi anak-anak /orang Katolik yang bekerja di lembaga pendidikan npn Katolik, dengan alasan seperti telah saya kemukakan di atas. Harus diakui bahwa sampai sekang reksa pastoral bagi IIPK di KAS juga masih mengalami banyak kesulitan.

Lembaga donor/sponsor (Porticus) yang memilih reksa pastoral pendidikan bagi IIPK, juga memperlihatkan penting dan mendesaknyaa reksa pstoral bagi IIPK. Kalau Porticus yang adalah milik orang asing, tidak mempunyai kewajibaan seperti kita saja amat peduli kepada reksa pastoral IIPK, apakah kita tidak tersadarkan untuk lebih peduli kepada IIPK?

4. Hal-hal Praktis yang Perlu Diperhatikan

Salah satu amanat Injil ialah agar murid-murid Yesus lebih memperhatikan orang-orang yang belum terperhatikan. Maka sungguh tepat dan mulia panggilan kita untuk memperhatikan “orang-orang yang terlantar”. Para siswa dan orang Katolik yang berada di lembaga pendidikan Katolik (MPK), sudah terlayani dengan baik, walau kadang masih ada kekurangannya. Namun anak-anak dan saudara-saudari kita yang berada di lembaga pendidikan non Katolik, betul-betul masih belum tersapa dengan baik, padahal tantangannya sungguh berat. Maka kita ikut bersalah kalau ada “domba-domba” yang tersesat atau menyimpang ke jalan lain.

Namun harus diakui bahwa reksa pastoral bagi insan pendidikan Katolik di lembaga pendidikan non Katolik, tidak mudah. Sebab belum ada mekanisme, data serta sumber dana yang jelas. Adalah tugas pemerintah dalam hal ini Dirjen Bimas Katolik dengan segala jajarannya dan Dinas Pendidikan dengan segala jajarannya dan tugas Gereja (dalam hal ini Komisi Pendidikan), untuk secara bersama-sama memperhatikan dan membina warganya atau menurut istilah reksa pastoral “untuk hadir dengan perhatian dan bantuan khusus”. Kerjasama yang baik antara Dirjen Bimas Katolik dengan segala jajarannya, Dinas Pendidikan dengan segala jajarannya dan Komisi Pendidikan sebagaimana telah terjadi selama ini perlu terus dipupuk dan dikembangkan untuk melaksanakan tugas reksa patoral yang satu dan sama.

Secara lebih konkrit Komisi Pendidikan Keuskupan bisa mengkoordinir orang-orang Katolik yang berada di lembaga pendidikan non Katolik atau Dinas Pendidikan dan para Pembimas Katolik Departemen Agama untuk bersama-sama memikirkan, merencanakan dan melaksanakan reksa pastoral pendidikan bagi insan Katolik di lembaga pendidikan non Katolik agar tujuan reksa pastoral pendidikan bisa tercapai dengan baik.

Ada 3 hal yang perlu diperhatikan agar reksa pastoral pendidikan tersebut bisa berjalan dengan baik :

1. Personalia / SDM

Dalam hal ini perlu ada orang-orang Katolik yang mampu dan mau untuk terlibat dalam reksa pastoral pendidikan tersebut. Perlu disadari bahwa bekerja dibidang reksa pastoral pendidikan itu berbeda dengan di lembaga formal/pemerintah. Dalam bahasa sederhana, kalau bekerja di lembaga formal/pemerintah serba ada anggaran dan gaji (“golek sega”), sedangkan kalau dibidang reksa pastoral pendidikan sifatnya lebih sosial (“golek swarga”). Dalam praktik selalu ada orang yang mau dan mampu untuk terlibat dalam reksa pastoral peendidikan.

2. Program / kegiatan

Perlu ada program kerja yang baik dan realistis sesuai dengan kondisi tanpa melupakan visi dan misi reksa pastoral pendidikan. Tersirat perlunya visi, misi, sasaran, strategi dan program. Kiranya di setiap tempat sudah ada reksa pastoral pendidikan bagi IIPK, walaupun mungkin masih sederhana dan belum tersusun dengan jelas. Kita mengenali yang sudah ada dan mengembangkannya dengan hal-hal yang perlu dan bisa kita laksanakan Lebih baik program yang sederhana tetapi bisa terlaksana dari pada program yang sempurna tetapi tidak terlaksana. Kita belajar dari strategi makan bubur panas. Walau kecil dan sedikit tapi kalau ada hasil yang baik akan menggembirakan dan akan mendorong untuk terus maju.

Biasanya materi pendampingan meliputi : iman, kecerdasan dan keterampilan (manajerial) dan kepribadian. Iman mencakup masalah spiritualitas dan bisa ditempuh melalui : rekoleksi; misa bersama baik dalam rangka Natal, Paskah atau kesempatan lainnya; retret dan kegiatan-kegiatan roahni lainnya. Bisa juga kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan ilmu yang up to date dan relevan mau pun meningkatkaan kemampuan manajerial. Bisa juga kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas kepribadian. Semua itu perlu dibicarakan dengan para anggota dengan melihat kebutuhan dan kemampuan yang ada. Tentu semuanya itu bertujuan agar semua orang katolik semakin berkualitas dalam hal iman, ilmu dan kepribadian sehingga bisa menjadi garam dan ragi yang baik dan bisa ikut menciptakan tatanan hidup bersama yang dijiwai oleh nilai-nilai kristiaani.

3. Dana

Walaupun bekerja di bidang reksa pastoral pendidikan bukan cari uang (“golek sega”), tetapi lebih bersifat karya sosial (“golek swarga”) namun tidak bisa dipungkiri bahwa dana adalah sangat penting agar reksa pastoral pendidikan bisa berjalan dengan baik. Untuk itu dibutuhkan orang-orang yang mau dan mampu bekerja, juga dibutuhkan orang-orang yang bisa mencari sumber-sumber dana. Kegiatan komdik sering tidak terlaksana dengan baik karena tidak cukup dana. Kadang ada dana yang tersedia di Bmas Katolik, Depdiknas mau pun donator/sponsor, tetapi kita kurang informasi dann komunikasi. Maka kita perlu melibatkan orang yang mempunyai relasi dengan sumber-sumber dana tersebut.

Dalam kaitannya dengan program/kegiatan dan pendanaan ada perbedaan yang mencolok antara Gereja dan instansi pemerintah. Di instansi pemerintah, sistimnya adalah proyek dan anggaran. Di Gereja sisitimnya adalah program kegiatan termasuk kegiatan mencari dana. Ada yang mengatakan bahwa habitus baru kita adalah “bukan mengharap atau minta, tetapi aktif mencari”.

Adalah tugas kita bersama untuk memikirkan, merencanakan dan melaksanakan tugas reksa pastoral tersebut.

Ada beberapa pertanyaan yang bisa kita renungkan dan diskusikan::

1. Apakah Gereja sudah hadir dengan perhatian dan bantuan khusus bagi insan pendidikan Katolik yang berada di lembaga pendidikan non Katolik ? ( Kalau belum bagaimana dapat dilaksanakan, kalau sudah bagaimana dapat ditingkatkan ? )

2. Apakah sudah ada koordinasi yang baik antara Gereja (Komisi Pendidikan) dengan Pembimas Katolik dan orang-orang Katolik yang berada di Dinas Pendidikan atau lembaga pendidikan non Katolik agar reksa pastoral pendidikan tersebut di atas bisa terlaksana dengan baik ?

3. Hal-hal praktis apa yang belum disebut tetapi penting untuk diperhatikan yang perlu kita usahakan dan laksanakan bersama demi keberhasilan reksa pastoral pendidikan ?

~®~

FORM_HEADER


FORM_CAPTCHA
FORM_CAPTCHA_REFRESH